14 Desember 2015

PENGALAMAN MENJADI GURU



1.      Terpaksa Mencintai

 Saya melanjutkan sekolah menengah atas di SMUN 1 Kota Bengkulu pada tahun 1994. Ada beberapa sosok guru yang membuat saya bersemangat dalam mengikuti pelajarannya. Tahun pertama saya duduk di bangku SMU, Fisika dan Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang saya sukai. Salah satu faktor penyebabnya adalah sosok guru yang mengampunya. Pak Galingging adalah guru yang mengampu mata pelajaran Fsika. Saya sangat bersemangat mengikuti pelajaran beliau, menantang saya agar selalu berpikir cepat untuk menemukan konsep-konsep dengan kata kunci yang beliau berikan dan saya selalu ingin menyelesaikan soal-soal hitungan lebih awal daripada teman-teman yang lain. Saya mencari semua buku-buku Fisika kelas satu yang ada ada di perpustakaan, ada lima judul buku Fisika  yang saya pinjam. Sementara Mom Lena adalah guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Mom Lena adalah guru yang sangat bersemangat dalam mengajar, saya selalu memperhatikan mimik wajahnya pada saat memberi contoh kalimat. Terkadang mimiknya sedih, gembira ataupun marah. Saya kagum sekali ketika melihat Mom Lena bertemu dengan Mr Anton, mereka akan bercakap-cakap menggunakan Bahasa Inggris. Saya terkadang bergumam di dalam hati, “kapan saya bisa bercakap-cakap menggunakan Bahasa Inggris dengan lancar”.
Tahun pertama di bangku SMU saya lewati, berlanjut tahun kedua dan akhirnya saya memasuki tahun ketiga. Pada tahun ketiga sudah mulai penjurusan sesuai minat masing-masing. Pada tahun 1996, SMUN 1 Kota Bengkulu memiliki tiga jurusan yaitu jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan jurusan Bahasa, saya masuk jurusan IPA. Di tahun ketiga ini, selain mendapatkan pelajaran tambahan di sekolah, saya ingin sekali mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) untuk persiapan EBTA/EBTANAS dan UMPTN seperti teman-teman yang lain. Namun keinginan saya ditolak orangtua, menurut mereka kegiatan les di sekolah sudah cukup, jika saya bersungguh-sungguh, akhirnya saya terima dengan lapang dada. Menjelang masuk semester genap, saya sudah mulai memikirkan nanti akan melanjutkan studi kemana. Saya ingin sekali melanjutkan kuliah ke pulau Jawa mengambil jurusan pertanian. Ada program mahasiswa undangan di UNDIP, saya sangat bersemangat sekali.  Setelah mengutarakan keinginan kepada Bapak saya, jawabannya singkat saja “Bapak akan membiayai kuliah di FKIP, Eza harus jadi guru, kalau tidak mau menjadi guru tidak usah kuliah. Bapak tidak mengizinkan Eza kuliah ke pulau jawa, kuliah di Bengkulu saja, ada waktunya nanti Eza pergi ke pulau Jawa”. Dengan berat hati saya menyampaikan kepada guru di sekolah, kalau saya tidak bisa mengambil jalur undangan tersebut. Untuk mendapatkan jatah mahasiswa undangan UNIB pun sudah tidak ada lagi. Akhirnya dengan terpaksa saya mengikuti jalur tes dan melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu pada tahun 1997.
Pada tahun pertama saya kuliah, saya merasa malu kuliah di FKIP, tidak terpikirkan oleh saya untuk menjadi guru. Namun seiring waktu saya mulai merasa nyaman kuliah di program studi Biologi UNIB. Bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan, bersemangat untuk selalu menguasai semua mata kuliah dan memperoleh kesempatan mengenal sosok dosen yang akhirnya saya kagumi, Dr. Diah Aryulina, MA. Saya berpikir, mungkin sudah takdir saya menjadi seorang guru. Setelah tamat dari bangku kuliah, saya menjadi guru honorer di MAN Model Kota Bengkulu. Seiring perjalanan waktu saya menikmati dan mencintai profesi saya sebagai seorang guru.

2.       Pengalaman menjadi guru
Saya terjun di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2002 hingga 2004 sebagai guru honorer. Saya diangkat menjadi Guru PNS pada tahun 2004 dan bertugas di MTsN Karang Anyar Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari rekan-rekan guru dan siswa saya. Ada banyak peristiwa/kejadian yang menurut saya penting, ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil.
    
Must go on
Pelajaran berharga dari sosok guru-guru hebat saya memberikan pengaruh yang tidak sedikit terhadap pelaksanaan tugas saya sebagai guru. Karakter disiplin, pekerja keras, ulet, dan selalu ingin belajar yang mereka tanamkan pada saya sangat membantu pekerjaan saya. Saya selalu berusaha memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada siswa. Saya mempunyai harapan agar ada karakter yang kuat, yang bisa saya tanamkan pada mereka. 
Melaksanakan tugas sebagai guru yang dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya tidaklah mudah. Bukankah siswa menilai guru berdasarkan perilaku kesehariannya yang dapat mereka amati. Siswa pasti sudah mengenal kebiasaan masing-masing gurunya. Berdasarkan pengamatan saya, siswa akan memberi respon yang sama dengan kebiasaan gurunya. Misalnya jika ada seorang guru yang sering datang terlambat maka siswa juga akan terlambat masuk ke dalam kelas, jika ada guru yang malas menilai pekerjaan siswa maka siswa akan malas mengerjakan tugas dari sang guru. Begitu juga sebaliknya, jika guru datang tepat waktu maka siswa tidak akan terlambat masuk ke dalam kelas, guru yang dalam pelaksanaan proses pembelajarannya menarik maka siswa pun akan belajar dengan antusias.
Guru yang disiplin, memiliki etos kerja tinggi, kreatif dan inovatif sering kali mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Hambatan yang paling sering muncul berasal dari rekan seprofesinya. Guru yang disiplin terhadap waktu, mempersiapkan perangkat pembelajaran, melakukan inovasi-inovasi baik dari segi metode mengajar maupun media yang digunakan, up date informasi terbaru seputar dunia pendidikan akan dianggap sebagai guru yang idealis, sok tahu, egois dan kaku. Tantangannya adalah bagaimana agar guru tersebut tetap pada kebiasaan-kebiasaan positifnya di tengah iklim kerja yang tidak kondusif. Pada kondisi seperti ini terkesan bahwa guru tersebut menentang arus, padahal sebenarnya guru tersebut berusaha bekerja sesuai aturan.
Sebagai seorang guru yang memiliki keyakinan yang teguh bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, maka sebaiknya keyakinan itu tidak luntur hanya karena kita bekerja melawan arus. Mari kita lakukan banyak hal yang bisa meningkatkan kualitas diri kita, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang kita miliki, jika kita terbentur dan menghadapi masalah, maka tanggapilah masalah tersebut sebagai suatu proses pembelajaran untuk kita. Mari tanamkan di dalam diri kita bahwa “harga diri saya dipertaruhkan, jika saya tidak melakukan setiap pekerjaan yang diamanahkan kepada saya dengan maksimal”.
 
Kerja keras, jangan menjadi guru yang biasa saja
Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha melakukan apa saja dengan sebaik mungkin. Menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun administrasi, melakukan banyak hal yang dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Saya memiliki prinsip, seorang guru jangan pernah berhenti belajar, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang, bagaimana guru bisa mengajar kalau dia sendiri tidak mau belajar. Hal-hal yang telah saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan akademik saya diantaranya membeli buku-buku yang berhubungan dengan tugas saya sebagai agen pembelajaran, mengikuti seminar-seminar pendidikan, membuat inovasi media pembelajaran, melakukan PTK, mengikuti lomba-lomba guru serta membimbing siswa untuk mengikuti lomba.
Motivasi untuk berhasil dan keyakinan yang kuat merupakan modal utama saya untuk selalu melakukan banyak hal. Pengalaman-pengalaman dari orang lain yang saya dapatkan dari membaca, sharing, dan konsultasi akademik sangat membantu saya dalam mengerjakan banyak hal, menjadikan proses pembelajaran tersendiri bagi saya. Saya ingin menjadi guru yang berfikir out of the box, keluar dari zona nyaman, melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan, tanpa harus merasa putus asa apabila menemui jalan buntu. Saya sering berhenti sejenak untuk melepaskan kelelahan dan mengumpulkan tenaga baru untuk melanjutkan dan memulai pekerjaan baru.

Disiplin itu penting
Pendidikan disiplin dalam keluarga memberi kebiasaan yang baik dan mempengaruhi saya dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru. Kebiasaan yang baik ini, selalu saya tanamkan kepada siswa. Motivasi dan harapan saya adalah pembiasaan disiplin sejak dini kepada siswa, akan membentuk karakter yang baik dan berguna untuk menjalani hidup di masa yang akan datang serta sangat berpengaruh ketika telah terjun di dunia kerja.
Dalam mengajar saya selalu berusaha untuk disiplin, jika tidak ada keperluan yang mendesak saya akan mengajar dan mengerjakan semua tugas di sekolah. Pada tahun 2004-2005 saya mengampu mata pelajaran Fisika. Pada saat bel tanda masuk berbunyi, maka saya akan langsung menuju kelas. Siswa sudah sangat hapal dengan kebiasaan saya yang satu ini. Setiap memberi tugas rumah, saya selalu mengoreksinya bersama siswa dan siswa langsung bisa mengetahui hasilnya. Ada seorang siswa laki-laki kelas tiga yang kebetulan berdomisili di dekat rumah saya, namanya Zulkarnain. Siswa laki-laki tersebut biasanya hadir pada pelajaran saya, tetapi sering bolos jika tidak ada pelajaran saya.  Karena siswa tersebut sering tidak hadir, maka saya diberi tugas menyampaikan surat panggilan ke orang tuanya. Begitu saya bertemu dengan orangtuanya, saya menanyakan “kemana Zul, kenapa jarang masuk sekolah bu? ibu diminta datang ke MTs karena anak ibu sering tidak hadir.” Wajah ibu tersebut memerah, dan menjawab kalau beliau juga sudah kewalahan menghadapi anaknya. Setelah orang tuanya datang ke sekolah, saya menasehati anak tersebut. Tidak banyak yang saya sampaikan “Ibu minta tolong, Zul tetap datang ke sekolah sampai menyelesaikan semua rangkaian kegiatan ujian. Kalau Zul tidak menyelesaikan sekolah, alangkah sayangnya sekolah selama tiga tahun, tapi tidak mendapatkan ijazah. Tetap saja pendidikan terakhirnya tamat SD”. Akhirnya, siswa tersebut tetap sekolah hingga selesai semua rangkaian kegiatan ujian. Setamatnya dari MTs, orangtuanya mendaftarkan Zul tes Calon Tamtama (Catam) dan lulus. Setelah pendidikan Zul bertugas diperbatasan Indonesia-Malaysia. Beberapa tahun kemudian dia berkesempatan pulang ke Arga Makmur. Dia menanyakan kepada temannya, di mana bu Eza sekarang ? dia bercerita, “ternyata disiplin itu sangat penting. Disiplin yang ditanamkan bu Eza belum seberapa jika dibandingkan dengan kedisiplinan yang harus saya jalani pada saat mengikuti pendidikan Catam”.
Sebagai seorang guru kita harus menanamkan sikap disiplin kepada siswa, melalui keteladanan. Jika kita selalu disiplin, maka akan berpengaruh terhadap kinerja kita dalam menjalankan tugas. Kita harus melakukan penilaian diri sendiri, agar mendapatkan cerminan apakah kita sudah disiplin dalam menjalankan tugas. Siswa selalu menilai guru dari perilakunya. Jika kita sering terlambat masuk kelas, tidak pantas jika siswa kita yang terlambat kita marahi. Ketika kita meminta siswa mengerjakan tugas dan hasilnya salah, kita akan marah, padahal kita sering meninggalkan kelas dan hanya memberi tugas tanpa menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh siswa. Jika kita sebagai seorang guru tidak disiplin, bagaimana kita bisa menuntut siswa kita untuk disiplin.

Salah paham
MTsN Karang Anyar merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang ada di Kabupaten Bengkulu Utara. MTsN Karang Anyar bercirikan agama islam. Kegiatan pembinaan keagamaan yang dilaksanakan di antaranya Baca Tulis Al Quran (BTA) dan bimbingan sholat dhuha dan sholat dhuhur. Tahun 2012 banyak siswa MTs yang belum bisa sholat dan tidak hapal bacaan sholat, sehingga pada saat bimbingan sholat semua siswa membaca bacaan sholat mulai dari niat sampai salam dengan suara yang keras, agar guru pembimbing dapat melihat siapa yang belum hapal bacaan sholat. Bimbingan ini efektif untuk membuat siswa hapal bacaan sholat.
Siang itu saya sangat terkejut ketika saya melintas di depan laboratorium. Ada suara siswa membaca bacaan sholat dengan suara keras. Ketika saya mengecek ke dalam laboratorium, ternyata empat orang siswa sedang sholat dhuhur berjamaah. Satu orang yang bertugas sebagai imam, membaca bacaan sholat dengan suara keras. Setiap gerakan sholat dibaca dengan suara keras. Saya sangat senang, ternyata siswa saya sudah menyadari bahwa ibadah sholat itu wajib, tetapi alangkah terkejutnya saya ketika mendapati pemahaman siswa saya bahwa semua sholat, setiap bacaannya dibaca dengan keras. Pendidikan memang bukan semata tanggung jawab guru disekolah saja. Pendidikan agama seharusnya sejak dini sudah dilakukan di lingkungan keluarga. Anak-anak harus memiliki pondasi agama yang kuat, agar dapat menjalankan hidupnya sesuai dengan ajaran agamanya.  

Be trigger
Tugas tambahan sebagai wali kelas pernah memberi pengalaman yang berharga untuk saya. Pada waktu itu saya mendapat tugas sebagai wali kelas VII. Kegiatan pengambilan laporan penilaian hasil belajar semester ganjil, semua orang tua/wali harus datang ke madrasah untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan pengarahan yang disampaikan oleh wali kelas, diantaranya laporan mengenai kemajuan yang telah diperoleh siswa secara klasikal selama satu semester, harapan-harapan yang belum tercapai dan apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan akademik dan perkembangan siswa pada semester berikutnya. Ada wali murid dari salah seorang siswa yang kedua orang tuanya datang, setelah melihat laporan hasil penilaian yang diperoleh anaknya, raut muka mereka tampak kecewa sekali.
Singkat cerita, kedua orang tua tersebut menceritakan bahwa tiga orang anak terdahulunya tidak ada yang selesai sekolah, sehingga mereka pesimis apakah anak bungsunya ini akan selesai sekolah atau tidak. Pada saat itu mereka meminta saya untuk membimbing sekaligus memberi pelajaran tambahan kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa siswa tersebut menempati peringkat ke-27 dari 30 orang, termasuk anak yang tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan kurang percaya diri. Akhirnya saya mengambil inisiatif menyuruh siswa tersebut berkunjung ke rumah saya.
 Pada saat siswa tersebut berkunjung ke rumah, anak perempuan saya yang berumur lima tahun sedang mengerjakan soal-soal hitungan sederhana dan mengalami kesulitan. Mbak begitulah panggilan anak sulung saya. “Mbak... minta tolong abang yang mengajarkan”, dengan gampangnya siswa tersebut membantu menyelesaikan soal-soal hitungan anak saya, yang kala itu baru masuk TK. Saya langsung memberi pujian “Syawal ternyata pintar dong, coba lihat anak ibu kelihatannya puas diajari Syawal”, dengan terkejut siswa tersebut tersenyum dengan raut wajah memerah. Semenjak hari itu, setiap hari Senin hingga Kamis, siswa tersebut selalu datang ke rumah saya untuk les. Selalu saya berikan pujian setiap siswa tersebut melakukan kebaikan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk berhasil jika dilakukan dengan kerja keras. Saya memantau kemajuan siswa tersebut, dan ternyata seiring waktu rasa percaya dirinya muncul, dia mulai aktif mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas dan selalu ingin maju ke depan kelas untuk menyelesaikan contoh-contoh soal.
Pada akhir semester genap, siswa tersebut menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, dia mampu menduduki peringkat ketiga di kelasnya. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraihnya. Berdasarkan pengalaman ini, ada satu pelajaran yang dapat kita petik, bahwa siswa yang sebelumnya sering kita cap “kurang cerdas” ternyata hanya butuh ”trigger” untuk membangkitkan keyakinan dirinya bahwa sesungguhnya mereka memiliki kemampuan dan potensi untuk menjadi yang terbaik.
Sebagai seorang guru, marilah sama-sama kita menjadi trigger bagi murid-murid kita. Ayo bantu dan yakinkan mereka bahwa keyakinan, rasa percaya diri dan semangat untuk berhasil, akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. Kepada semua gurui jangan berputus asa untuk selalu melakukan kebaikan, jangan pernah berhenti untuk berharap, karena kebahagiaan guru terletak pada keberhasilannya menanamkan karakter yang kuat pada diri muridnya. “Let’s take a massive action for education”.      


Siap menang, siap kalah
“ibu kesal ya?...kami kalah” kalimat itu dilontarkan siswa saya dengan wajah penuh kecewa. Pada saat itu, kami tengah di perjalanan pulang dari mengikuti suatu lomba di kotamadya Bengkulu. MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara merupakan salah satu sekolah yang sering mengikuti ajang-ajang perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Saya kaget dengan pertanyaan tersebut, ternyata siswa saya berani menanyakan “apakah kami dewan guru kesal, jika siswa yang mengikuti ajang perlombaan tidak mendapat juara”. Jawaban saya pada saat itu : “kalian sudah bagus kok, dengan melihat urutan prestasi yang diraih dibandingkan dengan jumlah peserta keseluruhan. Jika kalian mengikuti ajang perlombaan dengan sepenuh hati, telah bekerja keras dan melakukan yang terbaik, maka kalian harus siap menang dan siap kalah. Tidak perlu kecewa jika belum berhasil, jadikan pengalaman lomba saat ini sebagai acuan untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba yang akan datang”. Pengalaman saya mendampingi siswa mengikuti lomba, pada saat menjelang lomba, acap kali siswa terserang demam panggung, panik, bahkan pernah memilih mundur sebelum bertarung. “Tugas kalian mengikuti lomba, lakukan sebaik mungkin, masalah hasilnya bagaimana itu urusan nanti”, kalimat itu yang biasa saya lontarkan kepada para siswa yang begitu panik, menjelang detik-detik perlombaannya. Sikap untuk bisa menerima kekalahan ternyata harus ditanamkan pada diri siswa, agar mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, tidak berhenti untuk mencoba, dan sanggup menghadapi situasi yang pahit sekalipun. Terkadang kita para guru hanya mementingkan predikat juara yang dapat diraih siswa. Kita melupakan kerja keras dan kesungguhan mereka, apabila mereka tidak mendapatkan piala, seolah-olah pengalaman mereka mengikuti ajang perlombaan bukan suatu hal yang perlu kita tanyakan.

3.       Harapan untuk selalu melakukan perubahan yang baik
Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa kita dapatkan dari guru-guru di sekitar kita, yang berpengaruh juga terhadap perilaku kita dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pengalaman yang bisa membangkitkan dan memelihara motivasi dan semangat kita untuk tetap melaksanakan tugas dan memberikan hal terbaik untuk dunia pendidikan.
Dunia pendidikan merupakan dunia yang selalu ada harapan dan cita-cita, ada situasi yang ingin kita ubah, ada hasil yang ingin kita pertahankan dan ada juga saat-saat yang mengharukan. Terkadang hal-hal yang kita lakukan belum menunjukkan hasil yang dapat kita rasakan pada saat itu, tetapi hasil tersebut bisa saja muncul setelah selang beberapa tahun kemudian.
Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, seorang guru tidak hanya pandai saja, tetapi harus memiliki kepribadian yang luhur, yang dapat menjadi panutan dan tuntunan bagi siswanya. Sebagai seorang guru kita harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, agar kebiasaan-kebiasaan positif yang sering kita lakukan dapat dicontoh oleh siswa. Seorang guru harus dapat menjadi pribadi yang utuh, yang memiliki akhlak yang mulia, baik dalam hal perilaku maupun ucapannya. Siswa akan menilai seorang guru berdasarkan kesesuaian ucapan dan perilakunya. Seorang guru yang sering bertindak tidak sesuai dengan ucapannya, seringkali kali mendapat respon yang kurang baik dari siswanya.
Guru yang profesional, berkualitas, dan mempunyai visi yang jauh ke depan dapat menjadikan siswa sebagai generasi yang menyadari ke-Esaan Tuhannya, berkualitas, unggul, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Guru harus bersemangat dalam mengejar ilmu dan “up date knowledge” merupakan hal yang penting yang harus dilakukan guru, tidak hanya penting karena tugas guru sebagai agent pembelajaran, tetapi juga  untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswanya. 
Sebagai seorang guru kita harus memiliki keyakinan yang kuat, tanpa keyakinan apa yang kita cita-citakan tidak akan dapat diraih. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri, akan memberikan kita semangat baru untuk melaksanakan tugas mulia ini dengan baik. Saya selalu berusaha membangkitkan semangat untuk melakukan tugas dengan baik melalui buku-buku bacaan yang dapat meningkatkan motivasi mengajar. Mengembangkan profesionalisme sebagai seorang guru melalui banyak kegiatan. Tidak sedikit guru yang tidak memiliki harapan untuk perubahan. Guru yang hanya melakukan tugas untuk melepaskan kewajiban.
Akhirnya kepada semua guru, mari kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya dengan ikhlas dan penuh keyakinan. Seorang guru harus memperbaiki kualitas dirinya baik dari segi perilaku, ucapan maupun bidang akademis. Mari jadikan diri kita sebagai inspirasi dan motivasi bagi siswa maupun teman sejawat, karena sesungguhnya kebaikan yang kita tanam hari ini, akan kita nikmati hasilnya di masa yang akan datang.   


Eza Avlenda, S.Pd., M.Si.
Guru MTsN Karang Anyar Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara

Tidak ada komentar: