9 April 2014

PERMEN PAN & RB No.16 Tahun 2009

         Guru harus mengetahui aturan kenaikan pangkat yang baru yaitu : 
  •         PERMEN PAN & RB No.16 Tahun 2009, tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka  Kreditnya 
  •         Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 14 Tahun 2010, Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya 
  •         PERMEN DIKNAS NO. 35 TAHUN 2010, Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

     Untuk lebih jelasnya silahkan baca ppt nya DI SINI

8 April 2014

TESTIMONI GURU HEBAT



GURU HEBAT










1.       Sosok Guru Hebat

 Profesi sebagai seorang guru merupakan pilihan yang tepat bagi saya. Ada banyak tokoh dunia pendidikan yang saya kagumi, tetapi sudah banyak dibahas melalui berbagai media cetak maupun elektronik. Beberapa orang guru yang langsung bersentuhan dengan kehidupan saya, menjadi inspirasi bagi saya dalam menjalankan tugas, tidak berlebihan jika saya menyebutkan sisi yang saya kagumi dari guru-guru saya.
Saya melanjutkan sekolah menengah atas di SMUN 1 kota Bengkulu pada tahun 1994, seorang guru biologi bernama Nenti Haryanti menjadi idola saya di kala itu. Ibu Nenti begitulah panggilan akrab beliau, merupakan sosok seorang guru yang tenang, suasana belajar yang enak, serta banyak memberi perhatian kepada siswanya. Kami begitu antusias menerima materi pelajaran dari beliau, ada banyak kegiatan belajar yang membuat kami merasa begitu terlibat didalamnya, ada kerinduan tersendiri jikalau beliau berhalangan hadir.
Pada tahun 1997 saya melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu, ada seorang dosen sekaligus pembimbing akademik saya Dr. Diah Aryulina. Bu Diah adalah seorang dosen yang menurut saya mengajar dengan penuh antusias, bersemangat, disiplin, memberi bimbingan, selalu mendukung kegiatan mahasiswa, memotivasi mahasiswa untuk lebih banyak melakukan kegiatan dan meraih prestasi. Ada sosok beliau yang begitu membuat saya terharu, beliau selalu memberi reward atas prestasi yang saya dapat berupa pujian, biaya kursus internet dan buku. Beliau akan menanyakan “buku apa yang eza butuhkan, karena saya akan berangkat ke jakarta?” Ya..buku, salah satu hadiah yang diberikan kepada saya. Bahkan hingga saya menjadi gurupun beliau masih saja mengirimi saya buku; buku Undang-undang Guru dan Dosen Tahun 2005 dan buku mengenai Permendiknas Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006. Beliau selalu memotivasi saya untuk menjadi guru yang memiliki kepribadian yang kuat, kaya dengan ilmu dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Sosok yang memberi saya inspirasi untuk selalu melaksanakan tugas dengan maksimal dan harus banyak berbuat untuk kemajuan diri sendiri maupun orang lain.
Program beasiswa S2 untuk guru bidang studi pada jenjang tsanawiyah dan aliyah yang dilaksanakan oleh kementerian agama, memberi kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Program Studi Biologi tahun 2007. Melalui program beasiswa ini diharapkan guru bidang studi di bawah naungan kementerian agama dapat meningkatkan kompetensi akademiknya sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Ada sosok seorang dosen yang juga memberi inspirasi kepada saya, beliau adalah Dr. Devi Nandita Choesin. Bu Devi dengan tampilannya yang sederhana dan selalu hangat bila bertemu mahasiswa, memberi pengalaman yang sama hebatnya di saat saya bertemu dengan ibu Diah. Beliau memiliki sikap disiplin yang tinggi, membimbing mahasiswa dengan penuh kesabaran, selalu membiasakan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Di antara kesibukannya yang padat, beliau tetap menyempatkan mengoreksi tugas-tugas yang dikerjakan mahasiswa. Jika ada tugas mahasiswa yang mirip/sama persis, beliau akan memanggil mahasiswa tersebut dan meminta klarifikasi mengenai tugasnya. Satu hal yang saya pelajari dari kebiasaan sang dosen, bahwa sesungguhnya beliau menginginkan mahasiswa mengerjakan tugas dengan usahanya sendiri, tidak menjadi plagiat apalagi memperoleh semua dengan instan. Melalui cara ini sebenarnya bu Devi ingin agar mahasiswa menjadi lebih kreatif, bisa berinovasi, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas apapun, agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Ada nasehat yang beliau sampaikan setelah usai sidang thesis, yang membuat saya menangis : “saya sangat menghargai semua kerja keras dan jerih payah yang telah kamu lakukan selama ini, baik pada saat perkuliahan, melakukan penelitian hingga sidang ini. saya yakin sekali kamu adalah orang yang tekun dan gigih, jangan pernah hilang semangat itu. Apalagi kamu seorang guru, guru yang harus menjadi contoh yang baik untuk murid-muridmu, untuk rekan sesama guru dan yang paling penting, kamu akan kembali ke masyarakat. Saya berharap akan bertemu kamu lagi di sini, di program doktor”. Nasehat beliau begitu dalam saya rasakan, ternyata di sela-sela kesibukannya, beliau mengikuti perkembangan saya selama menempuh studi di sini.
Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari guru-guru hebat saya, yang berpengaruh juga terhadap perilaku saya dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pengalaman yang bisa membangkitkan dan memelihara motivasi dan semangat saya untuk tetap melaksanakan tugas dan memberikan hal terbaik yang saya punya untuk dunia pendidikan.
Dunia pendidikan merupakan dunia yang selalu ada harapan dan cita-cita, ada situasi yang ingin kita ubah, ada hasil yang ingin kita pertahankan dan ada juga saat-saat yang mengharukan. Terkadang hal-hal yang kita lakukan belum menunjukkan hasil yang dapat kita rasakan pada saat itu, tetapi hasil tersebut bisa saja muncul setelah selang beberapa tahun kemudian.
Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, seorang guru tidak hanya pandai saja, tetapi harus memiliki kepribadian yang luhur, yang dapat menjadi panutan dan tuntunan bagi siswanya. Sebagai seorang guru kita harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, agar kebiasaan-kebiasaan positif yang sering kita lakukan dapat dicontoh oleh siswa. Seorang guru harus dapat menjadi pribadi yang utuh, yang memiliki akhlak yang mulia, baik dalam hal perilaku maupun ucapannya. Siswa akan menilai seorang guru berdasarkan kesesuaian ucapan dan perilakunya. Seorang guru yang sering bertindak tidak sesuai dengan ucapannya, seringkali kali mendapat respon yang kurang baik dari siswanya.
Guru yang profesional, berkualitas, dan mempunyai visi yang jauh ke depan dapat menjadikan siswa sebagai generasi yang menyadari keesaan tuhannya, berkualitas, unggul, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Guru harus bersemangat dalam mengejar ilmu dan “up date knowledge” merupakan hal yang penting yang harus dilakukan guru, tidak hanya penting karena tugas guru sebagai agent pembelajaran, tetapi juga  untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswanya. 

2.       Pengalaman menjadi guru
Saya terjun di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2002, banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari rekan-rekan guru.
     
Must go on
Pelajaran berharga dari sosok guru-guru hebat saya memberikan pengaruh yang tidak sedikit terhadap pelaksanaan tugas saya sebagai guru. Karakter disiplin, pekerja keras, ulet, dan selalu ingin belajar yang mereka tanamkan pada saya sangat membantu pekerjaan saya. Saya selalu berusaha memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada siswa. Saya mempunyai harapan agar ada karakter yang kuat, yang bisa saya tanamkan pada mereka.  
Melaksanakan tugas sebagai guru yang dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya tidaklah mudah. Bukankah siswa menilai guru berdasarkan perilaku kesehariannya yang dapat mereka amati. Siswa pasti sudah mengenal kebiasaan masing-masing gurunya. Berdasarkan pengamatan saya, siswa akan memberi respon yang sama dengan kebiasaan gurunya. Misal jika ada seorang guru yang sering datang terlambat maka siswa juga akan terlambat masuk ke dalam kelas, jika ada guru yang malas menilai pekerjaan siswa maka siswa akan malas mengerjakan tugas dari sang guru. Begitu juga sebaliknya, jika guru datang tepat waktu maka siswa tidak akan terlambat masuk ke dalam kelas, guru yang dalam pelaksanaan proses pembelajarannya menarik maka siswa pun akan belajar dengan antusias.
Guru yang disiplin, memiliki etos kerja tinggi, kreatif dan inovatif sering kali mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Hambatan yang paling sering muncul berasal dari rekan seprofesinya. Guru yang disiplin terhadap waktu, mempersiapkan perangkat pembelajaran, melakukan inovasi-inovasi baik dari segi metode mengajar maupun media yang digunakan, up date informasi terbaru seputar dunia pendidikan akan dianggap sebagai guru yang idealis, sok tahu, egois dan kaku. Tantangannya adalah bagaimana agar guru tersebut tetap pada kebiasaan-kebiasaan positifnya di tengah iklim kerja yang tidak kondusif. Pada kondisi seperti ini terkesan bahwa guru tersebut menentang arus.
Sebagai seorang guru yang memiliki keyakinan yang teguh bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, maka sebaiknya keyakinan itu tidak luntur hanya karena kita bekerja melawan arus. Mari kita lakukan banyak hal yang bisa meningkatkan kualitas diri kita, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang kita miliki, jika kita terbentur dan menghadapi masalah, maka tanggapilah masalah tersebut sebagai suatu proses pembelajaran untuk kita. Mari tanamkan di dalam diri kita bahwa “harga diri saya dipertaruhkan, jika saya tidak melakukan setiap pekerjaan yang diamanahkan kepada saya dengan maksimal”.
 
Kerja keras, jangan menjadi guru yang biasa saja
Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha melakukan apa saja dengan sebaik mungkin. Menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun administrasi, melakukan banyak hal yang dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Hal-hal yang telah saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan akademik saya diantaranya membeli buku-buku yang berhubungan dengan tugas saya sebagai agen pembelajaran, mengikuti seminar-seminar pendidikan, membuat inovasi media pembelajaran, melakukan PTK, mengikuti lomba-lomba guru serta membimbing siswa untuk mengikuti lomba.
Motivasi untuk berhasil dan keyakinan yang kuat merupakan modal utama saya untuk selalu melakukan banyak hal. Pengalaman-pengalaman dari orang lain yang saya dapatkan dari membaca, sharing, dan konsultasi akademik sangat membantu saya dalam mengerjakan banyak hal, menjadikan proses pembelajaran tersendiri bagi saya. Saya ingin menjadi guru yang berfikir out of the box, melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan, tanpa harus merasa putus asa apabila menemui jalan buntu. Saya sering berhenti sejenak untuk melepaskan kelelahan dan mengumpulkan tenaga baru untuk melanjutkan dan memulai pekerjaan baru.

Be trigger
Tugas tambahan sebagai wali kelas pernah memberi pengalaman yang berharga untuk saya. Pada waktu itu saya mendapat tugas sebagai wali kelas VII. Kegiatan pengambilan laporan penilaian hasil belajar semester ganjil, semua orang tua/wali harus datang ke madrasah untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan pengarahan yang disampaikan oleh wali kelas, diantaranya laporan mengenai kemajuan yang telah diperoleh siswa secara klasikal selama satu semester, harapan-harapan yang belum tercapai dan apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan akademik dan perkembangan siswa pada semester berikutnya. Ada wali murid dari salah seorang siswa yang kedua orang tuanya datang, setelah melihat laporan hasil penilaian yang diperoleh anaknya, raut muka mereka tampak kecewa sekali.
Singkat cerita, kedua orang tua tersebut menceritakan bahwa tiga orang anak terdahulunya tidak ada yang selesai sekolah, sehingga mereka pesimis apakah anak bungsunya ini akan selesai sekolah atau tidak. Pada saat itu mereka meminta saya untuk membimbing sekaligus memberi pelajaran tambahan kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa siswa tersebut menempati peringkat ke-27 dari 30 orang, termasuk anak yang tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan kurang percaya diri. Akhirnya saya mengambil inisiatif menyuruh siswa tersebut berkunjung ke rumah saya.
 Pada saat siswa tersebut berkunjung ke rumah, anak perempuan saya yang berumur lima tahun sedang mengerjakan soal-soal hitungan sederhana dan mengalami kesulitan. Mbak begitulah panggilan anak sulung saya. “Mbak... minta tolong abang yang mengajarkan”, dengan gampangnya siswa tersebut membantu menyelesaikan soal-soal hitungan anak saya, yang kala itu baru masuk TK. Saya langsung memberi pujian “Syawal ternyata pintar dong, coba lihat anak ibu kelihatannya puas diajari Syawal”, dengan terkejut siswa tersebut tersenyum dengan raut wajah memerah. Semenjak hari itu, setiap hari Senin hingga Kamis, siswa tersebut selalu datang ke rumah saya untuk les. Selalu saya berikan pujian setiap siswa tersebut melakukan kebaikan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk berhasil jika dilakukan dengan kerja keras. Saya memantau kemajuan siswa tersebut, dan ternyata seiring waktu rasa percaya dirinya muncul, dia mulai aktif mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas dan selalu ingin maju ke depan kelas untuk menyelesaikan contoh-contoh soal.
Pada akhir semester genap, siswa tersebut menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, dia mampu menduduki peringkat ketiga di kelasnya. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraihnya. Berdasarkan pengalaman ini, ada satu pelajaran yang dapat kita petik, bahwa siswa yang sebelumnya sering kita cap “kurang cerdas” ternyata hanya butuh ”trigger” untuk membangkitkan keyakinan dirinya bahwa sesungguhnya mereka memiliki kemampuan dan potensi untuk menjadi yang terbaik.
Sebagai seorang guru, marilah sama-sama kita menjadi trigger bagi murid-murid kita. Ayo bantu dan yakinkan mereka bahwa keyakinan, rasa percaya diri dan semangat untuk berhasil, akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. Kepada semua gurui jangan berputus asa untuk selalu melakukan kebaikan, jangan pernah berhenti untuk berharap, karena kebahagiaan guru terletak pada keberhasilannya menanamkan karakter yang kuat pada diri muridnya. “Let’s take a massive action for education”.      

Siap menang, siap kalah
“ibu kesal ya?...kami kalah” kalimat itu dilontarkan siswa saya dengan wajah penuh kecewa. Pada saat itu, kami tengah di perjalanan pulang dari mengikuti suatu lomba di kotamadya Bengkulu. MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara merupakan salah satu sekolah yang sering mengikuti ajang-ajang perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Saya kaget dengan pertanyaan tersebut, ternyata siswa saya berani menanyakan “apakah kami dewan guru kesal, jika siswa yang mengikuti ajang perlombaan tidak mendapat juara”. Jawaban saya pada saat itu : “kalian sudah bagus kok, dengan melihat urutan prestasi yang diraih dibandingkan dengan jumlah peserta keseluruhan. Jika kalian mengikuti ajang perlombaan dengan sepenuh hati, telah bekerja keras dan melakukan yang terbaik, maka kalian harus siap menang dan siap kalah. Tidak perlu kecewa jika belum berhasil, jadikan pengalaman lomba saat ini sebagai acuan untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba yang akan datang”. Pengalaman saya mendampingi siswa mengikuti lomba, pada saat menjelang lomba, acap kali siswa terserang demam panggung, panik, bahkan pernah memilih mundur sebelum bertarung. “Tugas kalian mengikuti lomba, lakukan sebaik mungkin, masalah hasilnya bagaimana itu urusan nanti”, kalimat itu yang biasa saya lontarkan kepada para siswa yang begitu panik, menjelang detik-detik perlombaannya. Sikap untuk bisa menerima kekalahan ternyata harus ditanamkan pada diri siswa, agar mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, tidak berhenti untuk mencoba, dan sanggup menghadapi situasi yang pahit sekalipun. Terkadang kita para guru hanya mementingkan predikat juara yang dapat diraih siswa. Kita melupakan kerja keras dan kesungguhan mereka, apabila mereka tidak mendapatkan piala, seolah-olah pengalaman mereka mengikuti ajang perlombaan bukan suatu hal yang perlu kita tanyakan.

3.       Harapan untuk selalu melakukan perubahan yang baik
Sebagai seorang guru kita harus memiliki keyakinan yang kuat, tanpa keyakinan apa yang kita cita-citakan tidak akan dapat diraih. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri, akan memberikan kita semangat baru untuk melaksanakan tugas mulia ini dengan baik. Saya selalu berusaha membangkitkan semangat untuk melakukan tugas dengan baik melalui buku-buku bacaan yang dapat meningkatkan motivasi mengajar. Mengembangkan profesionalisme sebagai seorang guru melalui banyak kegiatan. Tidak sedikit guru yang tidak memiliki harapan untuk perubahan. Guru yang hanya melakukan tugas untuk melepaskan kewajiban.
Akhirnya kepada semua guru, mari kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya dengan ikhlas dan penuh keyakinan. Seorang guru harus memperbaiki kualitas dirinya baik dari segi perilaku, ucapan maupun bidang akademis. Mari jadikan diri kita sebagai inspirasi dan motivasi bagi siswa maupun teman sejawat, karena sesungguhnya kebaikan yang kita tanam hari ini, akan kita nikmati hasilnya di masa yang akan datang.   



Eza Avlenda, S.Pd, M.Si.
Guru IPA MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara
Eza.avlenda@gmail.com

Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar IPA Peserta Didik Kelas VII D MTsN Karang Anyar Arga Makmur



Eza Avlenda, M.Si.
(Guru IPA MTsN Karang Anyar Bengkulu Utara)

Abstrak
Mata pelajaran IPA dianggap materi yang sulit, susah dipahami, tidak menarik, dan lain sebagainya, sementara di sisi lain pembelajaran monoton, alat peraga/alat praktikum di madrasah kurang memadai. Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa mata pelajaran IPA merupakan pelajaran yang sulit adalah hasil belajar yang diperoleh peserta didik belum memuaskan. Berdasarkan kenyataan rendahnya kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar IPA, maka perlu dicoba suatu alternatif yaitu penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran IPA. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas belajar pada siklus I sebesar 63,33 % dengan kategori cukup dan siklus II sebesar 91,66 % dengan kategori baik. Sementara rata-rata hasil belajar pada siklus pertama 75,80 dan ketuntasan belajar secara klasikal 77,41 %, sedangkan pada siklus kedua rata-rata hasil belajar 91,72 dan ketuntasan hasil belajar sebesar 86,20 %. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik kelas VII D MTsN Karang Anyar.

Kata kunci : aktivitas belajar, hasil belajar, CTL

4 Juli 2011

INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI

INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM
PEMBELAJARAN BIOLOGI



OLEH :
EZA AVLENDA, S.Pd.,M.Si.
GURU IPA MTsN KARANG ANYAR BENGKULU UTARA
E-mail : eza.avlenda@gmail.com










DISAMPAIKAN PADA SEMINAR BIOLOGI 2011
BENGKULU, 26 FEBRUARI 2011





INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM
PEMBELAJARAN BIOLOGI


Eza Avlenda, S.Pd.,M.Si.
(Guru IPA MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara)


Abstrak

Kemajuan dan kemandirian sebuah bangsa antara lain dibangun melalui karakter yang kuat. Pendidikan karakter sebagai upaya membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai yang baik kepada peserta didik melalui pendidikan. Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan dapat dilakukan dengan mengembangkan nilai-nilai melalui belajar pembiasaan, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, bimbingan konseling dan pendekatan terintegrasi dengan menanamkan moralitas dan akhlak mulia dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat berperan dalam pendidikan karakter dengan menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia pada proses pembelajarannya. Selain menanamkan nilai-nilai kepada peserta didik, tenaga pendidik diharapkan juga memberikan contoh teladan yang baik bagi peserta didiknya serta adanya kerjasama antara pihak satuan pendidikan dengan orang tua dalam menanamkan karakter yang baik pada diri peserta didik.

Kata kunci : Pendidikan karakter, Pembelajaran biologi



I. Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1, Ayat (1) UU RI No 20 Tahun 2003). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3, UU RI No 20 Tahun 2003).

UU RI No 20 Tahun 2003 pada pasal satu dan tiga secara inplisit telah memuat pendidikan karakter sebagai upaya membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Tahun 2011 Kementerian Pendidikan Nasional akan mengembangkan kurikulum berbasis akhlak mulia yang bertujuan untuk menanamkan karakter yang baik kepada peserta didik melalui pendidikan (Anonim,2010). Hal tersebut diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Nuh, DEA. Menurut M Nuh, Kemajuan dan kemandirian sebuah bangsa antara lain dibangun melalui karakter yang kuat sehingga pengembangan Kurikulum berbasis akhlak mulia diharapkan dapat menanamkan karakter bagi anak-anak Indonesia sejak dini. Kebijakan kementerian pendidikan nasional mengenai pendidikan karakter harus didukung untuk membangun karakter bangsa. Karakter suatu bangsa dapat dibangun dari pembentukan karakter generasi muda sejak dini. Pembentukan karakter bangsa harus berlangsung secara berkesinambungan dari suatu generasi ke generasi berikutnya.

Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan dapat dilakukan dengan mengembangkan nilai-nilai melalui belajar pembiasaan, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, bimbingan konseling dan pendekatan terintegrasi dengan menanamkan moralitas dan akhlak mulia dalam semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Bagi tenaga pendidik, pendidikan karakter yang menjadi kebijakan pemerintah merupakan tugas utama pada pengembangan aspek sikap (afektif) selain aspek pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor). Pengetahuan dan keterampilan adalah kemampuan yang penting dimiliki oleh peserta didik, akan tetapi penanaman sikap untuk membentuk mental peserta didik tidak kalah pentingnya, agar sikap peserta didik ketika memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk masa depannya lebih terarah.

Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat berperan dalam pendidikan karakter dengan menanamkan nilai-nilai moral dan akhlak mulia pada proses pembelajarannya. Menurut Naisbitt & Aburdene (1990, dalam Rustaman, 2010) tentang abad XXI sebagai abad biologi. Abad ini jelas merupakan tantangan bagi para biologiwan dan pendidik biologi. Mata pelajaran biologi mempelajari makhluk hidup dan hubungannya dengan lingkungan, sehingga dapat dimuati dengan nilai-nilai luhur, baik nilai religius maupun nilai akhlak mulia. Sehingga tenaga pendidik yang mengajar biologi harus mulai berperan serta dalam pembentukkan karakter bangsa bukan hanya sekedar membebani peserta didik dengan pengetahuan dan hapalan.


II. Pendidikan karakter

Menurut Pusat Bahasa Depdiknas karakter adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. sedangkan berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak” (Ardi, 2010). Sedangkan menurut Musfiroh (2008, dalam Ardi, 2010), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Menurut Ardi (2010) individu yang berkarakter mulia berarti individu yang memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Sementara menurut Thomas Lickona (1999, dalam Budimansyah, 2011) harmoninya antara moral knowing, moral feeling, dan moral action dalam pengertian bahwa seseorang yang berkarakter itu mempunyai pikiran yang baik (thinking good), memiliki perasaan yang baik (feeling good), dan juga berperilaku baik (acting good).

Makna pendidikan karakter adalah sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menilai baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari (Diknas, 2010). Karakter yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup pada saat sekarang dan di masa yang akan datang.
Sembilan pondasi dalam pembentukan karakter menurut Pakpahan (2010) adalah sebagai berikut :
1. Menanamkan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Ciptaannya
2. Tanggung jawab, disiplin dan mandiri
3. Kejujuran
4. Hormat dan santun
5. Kasih sayang, peduli, dan kerjasama
6. Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah
7. Keadilan dan kepemimpinan
8. Baik dan rendah hati
9. Toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Sembilan pondasi dalam pembentukan karakter bangsa dapat ditumbuhkembangkan melalui pendidikan pada semua jenjang dan perlu ditanamkan sejak dini mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan. Dunia pendidikan diharapkan dapat berperan dalam proses pembangunan karakter bangsa. Tenaga pendidik hendaknya mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran di kelas.

Menurut Diknas (2010) jenis-jenis nilai karakter yang dapat ditanamkan kepada peserta didik di kelas adalah sebagai berikut :
1. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan Tuhan
  • Religius
  • Taqwa
2. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan diri sendiri
  • Jujur
  • Bertanggung jawab
  • Hidup sehat
  • Disiplin
  • Kerja keras
  • Percaya diri
  • Berjiwa wira usaha
  • Berpikir logis, kritis, kreatif,inovatif
  • Mandiri
  • Ingin tahu
  • Cinta ilmu
3. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan sesama
  • Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
  • Patuh pada aturan-aturan sosial
  • Menghargai karya dan prestasi orang lain
  • Santun
  • Demokratis
4. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan kebangsaan
  • Nasionalis
  • Menghargai Keberagaman
5. Nilai Karakter dalam Hubungannya dengan lingkungan
  • Peduli Sosial dan Lingkungan

III. Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Biologi

Dalam proses pembelajaran di kelas pengembangan nilai/karakter dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran (embeded approach) (Diknas, 2010). Setiap kegiatan pembelajaran dikembangkan kemampuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, sehingga tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa. Tenaga pendidik dapat menjadi teladan bagi peserta didik, untuk pengembangan nilai-nilai tertentu seperti jujur, disiplin, kerja keras, toleransi, mandiri, semangat kebangsaan, dan gemar membaca. Sedangkan untuk mengembangkan beberapa nilai lain seperti peduli lingkungan, rasa ingin tahu, peduli sosial dan kreatif memerlukan situasi dan kondisi agar peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai tersebut.
Integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran biologi yang dapat dikembangkan antara lain:

a. Menanamkan rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Ciptaannya

Pembelajaran biologi dapat dijadikan sebagai pendekatan untuk membangun moral, karakter, dan akhlak mulia. Menurut Suprayogo (2010, dalam Pakpahan, 2010) melalui pendidikan sains, peserta didik akan mengenal dirinya sendiri dan Tuhannya. Dengan memperhatikan, memikirkan, dan merenungkan tentang ciptaan Tuhan di alam semesta ini maka akan terbangun rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ciptaannya serta kasih sayang dan peduli terhadap sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Pembentukan karakter ini dapat diintegrasikan pada materi biologi,antara lain keanekaragaman makhluk hidup, proses kejadian manusia, dan ekosistem. Proses pembelajaran yang dilakukan tidak hanya di dalam kelas tetapi dapat juga dilakukan di luar kelas (lingkungan alam). Dengan melibatkan alam, maka pembelajaran biologi akan menjadi lebih menyenangkan dan menggairahkan. Adanya Interaksi peserta didik dengan lingkungan atau alam akan menghasil perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.

b. Ingin tahu, cinta ilmu dan hidup sehat

Nilai karakter ingin tahu, cinta ilmu dan hidup sehat dapat dikembangkan pada peserta didik melalui materi sistem pada tubuh manusia yang meliputi morfologi, anatomi, fisiologi dan kelainan/penyakit yang berhubungan dengan sistem-sistem dalam tubuh manusia. Selain itu dapat pula ditanamkan nilai karakter tersebut melalui materi virus dan bakteri serta zat psikotropika dan pengaruhnya bagi kesehatan.

c. Peduli sosial dan lingkungan

Pada materi pencemaran lingkungan, saling ketergantungan dan contoh-contoh bencana alam, dapat dikembangkan nilai menyadari peran manusia dalam lingkungannya, menanamkan sikap cinta lingkungan dengan cara bersikap bijak terhadap sampah yang dihasilkan manusia dan bagaimana cara penanggulangannya. Selain itu pada kasus-kasus bencana alam, ditanamkan sikap peduli sosial kepada peserta didik melalui berdoa bersama untuk para korban bencana, penggalangan dana dan mengumpulkan pakaian layak pakai.

d. Berpikir logis, kritis, kreatif,inovatif

Karakter ini dapat dikembangkan melalui pembuatan majalah dinding (Mading) yang bertema keselamatan kerja di laboratorium atau pelestarian lingkungan. Mading ini dapat memuat puisi, cerpen, puzzle, karikatur dan lain sebagainya. Selain itu sikap kreatif dan inovatif dapat pula ditanamkan melalui penugasan pembuatan insektarium, herbarium ataupun taksidermi.

e. Pengembangan sikap ilmiah

Menurut Rustaman (2010) pembentukan karakter melalui pengembangan sikap ilmiah (scientific attitude) antara lain meliputi: curiosity (sikap ingin tahu), respect for evidence (sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti), flexibility (sikap luwes terhadap gagasan baru), critical reflection (sikap merenung secara kritis), sensitivity to living things and environment (sikap peka/ peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan). Pengembangan sikap ilmiah ini dapat dilakukan dengan penugasan proyek mengamati gejala alam.

f. Disiplin, bertanggung jawab, jujur

Dalam proses penanaman sikap disiplin, bertanggung jawab dan jujur dapat dilkukan oleh tenaga pendidik sebagai contoh teladan bagi peserta didiknya. Misalnya masuk dan keluar kelas tepat waktu, mengoreksi tugas-tugas dan hasil ulangan peserta didik tepat waktu, dan berkata jujur. Sedangkan kepada peserta didik dilatih agar setiap tugas tidak mencontek dan mengumpulkan tugas tepat waktu,

g. Santun, menghargai orang lain dan menghargai keberagaman

Peserta didik dapat mengembangkan sikap ini melalui diskusi-diskusi kelas, peserta didik dibiasakan agar santun dalam mengeluarkan pendapat dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu dalam kegiatan praktikum, dikembangkan juga sikap toleransi terhadap orang lain dan menghargai keberagaman dalam kelompok.


IV. Simpulan dan Saran

Di akhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa pembangunan karakter bangsa sangat penting, tidak hanya harus dilakukan pada lingkungan keluarga saja, tetapi juga harus dikembangkan pada tingkat satuan pendidikan, lingkungan masyarakat bahkan di tempat kerja. Pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui proses pembelajaran biologi dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang baik dalam proses pembelajaran biologi. Tenaga pendidik harus memberikan contoh teladan yang baik bagi peserta didiknya serta sebaiknya ada kerjasama antara pihak satuan pendidikan dengan orang tua dalam menanamkan karakter yang baik pada diri peserta didik.


Daftar Pustaka

Anonim.2010. Kemendiknas akan Kembangkan Kurikulum Berbasis Akhlak Mulia. http://www.pendidikankarakter.org/index.php?news&nid=20.

Ardi, S. 2010. Konsep Pendidikan Karakter. http://suciptoardi.wordpress.com/ 2010/10/27/konsep-pendidikan-karakter/.

Budimansyah, D. 2011. Pendidikan Umum dalam Perspektif Pendidikan Karakter Bangsa. http://berita.upi.edu/2011/02/18/pendidikan-umum-dalam-perspek tif-pendidikan-karakter-bangsa.

Diknas. 2010. Konsep Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Di Kelas. http:// mgpmgl.blogdetik.com/2010/12/02/konsep-pendidikan-karakter/comment-page-1/.

Pakpahan, S.P. 2010. Upaya Mencari Bentuk Pendidikan dalam Membangun Karakter Bangsa. Disampaikan pada Temu Ilmiah Guru Nasional II 24-25 November 2010.

Rustaman, N.Y.2010. Pendidikan Biologi dan Trend Penelitiannya.FMIPA UPI.

3 Juli 2011

CONTOH LAPORAN KEGIATAN LOMBA

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kegiatan lomba Bintang Fisika Raflesia (BFR), Lomba Cepat Tepat Fisika (LCTF) dan Majalah Dinding (Mading) se-provinsi Bengkulu pada Pekan Orientasi Fisika (POIF) XIII Plus di Universitas Bengkulu , telah diperiksa dan disetujui

Arga Makmur, 29 November 2010

Bendahara Sekretaris

Rita Sriyani, S.Pd Eza Avlenda, M.Si

NIP. 19751103 200501 2 003 NIP. 19790406 200312 2 002

Mengetahui

Kepala MTsN Karang Anyar Ketua

Dedi Harlian, S.Pd. Isnaini, S.Pd

NIP. 19720317 200212 1 002 NIP. 19690408 200501 2 007

I. Pendahuluan

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (Pasal 1 Ayat (2) PP RI No 19 Tahun 2005). Madrasah Tsanawiyah Negeri Karang Anyar sebagai salah satu satuan pendidikan yang termasuk dalam tingkatan wajib belajar sembilan tahun, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenyam pendidikan pada tingkat menengah pertama.

Madrasah sebagai wiyatamandala adalah suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat masyarakat belajar dan mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, yang terdiri dari perangkat pengelola pendidikan dan peserta didik. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Pasal 1 Ayat (16) PP RI No 19 Tahun 2005).

Madrasah Tsanawiyah Negeri Karang Anyar menyelenggarakan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Pada kegiatan intrakurikuler, salah satu mata pelajaran yang diselenggarakan adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Menurut Permendiknas No 22 Tahun 2006, mata pelajaran IPA mencakup materi sebagai berikut :

1. Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan (Biologi)

2. Materi dan Sifatnya (Kimia)

3. Energi dan Perubahannya (Fisika)

4. Bumi dan Alam Semesta (Bumi dan Antariksa)

Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di MTsN Karang Anyar diantaranya Sains Olympiad Club (SOC). Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi peserta didik untuk menyalurkan minat dan bakatnya dalam bidang sains. Adapun substansi kegiatan SOC meliputi pendalaman materi sains, pembahasan soal-soal olimpiade sains, praktikum, kerja lapangan dan mengikuti lomba-lomba bidang sains yang bersifat insidental.

Lomba Bintang Fisika Raflesia (BFR), Lomba Cepat Tepat Fisika (LCTF) dan Majalah Dinding (Mading) se-provinsi Bengkulu pada Pekan Orientasi Fisika (POIF) XIII Plus yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) Universitas Bengkulu merupakan salah satu ajang yang dirasa penting diikuti oleh peserta didik untuk berkompetisi dalam bidang sains khususnya fisika.

II. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :

a. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkompetisi dengan peserta didik dari madrasah/sekolah lain melalui lomba-lomba dalam bidang fisika

b. Melatih rasa percaya diri peserta didik untuk mengikuti lomba-lomba sejenis

c. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi kemampuan dan bakatnya dalam bidang fisika

III. Sasaran

Sasaran kegiatan ini adalah seluruh siswa-siswi yang berminat mengikuti lomba BFR, LCTF dan Mading yang telah lulus seleksi

IV. Panitia (terlampir)

V. Peserta (terlampir)

VI. Anggaran Biaya (terlampir)

VII. Cabang Lomba yang Diikuti

Cabang lomba yang diikuti pada Pekan Orientasi Fisika (POIF) XIII Plus di Universitas Bengkulu adalah sebagai berikut :

1. Lomba Bintang Fisika Raflesia (BFR) tingkat SMP se-provinsi Bengkulu

2. Lomba Cepat Tepat Fisika (LCTF) tingkat SMP se-provinsi Bengkulu

3. Lomba Majalah Dinding (Mading) tingkat SMP se-provinsi Bengkulu

VIII. Tata Tertib Lomba

a. Lomba Bintang Fisika Raflesia (BFR)

* Lomba bersifat individu

* Lomba terdiri dari dua tahap

* Satu sekolah mengirimkan maksimal dua orang peserta

b. Lomba Cepat Tepat Fisika (LCTF)

* Lomba bersifat beregu

* Satu regu terdiri dari tiga orang

* Setiap sekolah mengirimkan maksimal dua regu yang tidak homogen

c. Lomba Majalah Dinding (Mading)

* Lomba bersifat beregu

* Satu regu terdiri dari tiga orang

* Setiap sekolah mengirimkan maksimal dua regu yang tidak homogen

* Majalah dinding yang akan dilombakan adalah majalah dinding yang dibuat 50% dari madrasah dan 50% diselesaikan di lokasi lomba dalam waktu dua jam

* Majalah dinding yang 50% belum selesai diserahkan paling lambat tanggal 20 November 2010

IX. Waktu Pelaksanaan

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga minggu, mulai dari tahap seleksi peserta didik yang menjadi delegasi, kegiatan ini bertempat di MTsN Karang Anyar Arga Makmur. Sedangkan kegiatan lomba BFR, LCTF dan Mading bertempat di Universitas Bengkulu.

No

Kegiatan

Tanggal

1

Bimbingan dan Seleksi

8 s/d 22 November 2010

2

Pendaftaran

15 November 2010

3

Technical Meeting

20 November 2010

4

Lomba Mading

23 November 2010

5

Lomba BFR dan LCTF

24 November 2010

6

Pengambilan hadiah

27 November 2010

X. Hasil Kegiatan

Kegiatan membimbing peserta didik yang berminat mengikuti tiga cabang lomba berjalan dengan baik. Jumlah peserta didik yang mengikuti kegiatan bimbinganpun cukup banyak, sehingga harus diseleksi untuk menentukan siapa yang terbaik untuk mewakili madrasah pada ajang lomba tersebut. Setelah mengikuti tahap bimbingan dan tahap seleksi akhirnya diputuskan, madrasah mengirimkan peserta sebagai berikut :

1. Cabang lomba Bintang Fisika Raflesia (BFR) diikuti oleh dua orang peserta didik

2. Cabang lomba Cepat Tepat Fisika (LCTF) hanya diikuti oleh satu regu

3. Cabang lomba Majalah Dinding (Mading) hanya diikuti oleh satu regu

Pada tahap mengikuti lomba di Universitas Bengkulu, peserta didik sangat bersemangat dan antusias dalam mengikuti lomba. Hari pertama tanggal 23 November 2010 lomba yang diikuti adalah lomba Mading. Pengumuman pemenang lomba mading akan dilaksanakan pada tanggal 27 November 2010, hal ini dikarenakan lomba mading hanya satu tahap. Pada hari pengumuman hasil lomba, ternyata regu dari MTsN Karang Anyar mendapat juara dua lomba Mading tingkat SMP se-provinsi Bengkulu. Hadiah yang diperoleh regu MTsN Karang Anyar berupa piala, uang dan piagam penghargaan.

Hari kedua tanggal 24 November 2010 lomba yang diikuti adalah lomba BFR dan LCTF. Lomba BFR berlangsung dalam dua tahap, pada tahap pertama peserta didik yang mengikuti lomba hanya menempati urutan ke-12 dan ke-13, tidak masuk urutan enam besar, sehingga tidak dapat masuk tahap kedua. Pada tahap penyisihan LCTF, regu MTsN Karang Anyar mengikuti tahap penyisihan pertama yang diikuti oleh empat regu. Pada penyisihan tahap pertama dipilih dua regu dengan skor tertinggi. Regu MTsN Karang Anyar hanya mendapat urutan ke-empat, sehingga tidak masuk babak semi final. Walaupun tidak masuk ke babak selanjutnya, semua peserta lomba BFR dan LCTF mendapatkan piagam penghargaan sebagai peserta.

XI. Saran

Peserta didik yang akan mengikuti lomba-lomba yang sejenis hendaknya dipersiapkan lebih matang lagi, selain itu perlu diasah lebih tajam lagi tingkat kepercayaan diri peserta didik.

XII. Penutup

Demikianlah laporan kegiatan lomba Bintang Fisika Raflesia (BFR), Lomba Cepat Tepat Fisika (LCTF) dan Majalah Dinding (Mading) se-provinsi Bengkulu pada Pekan Orientasi Fisika (POIF) XIII Plus di Universitas Bengkulu ini dibuat untuk menjadi pedoman maupun referensi dalam melaksanakan kegiatan serupa.