29 Agustus 2017

Menanti Kepulangan (Day 3#Eza Avlenda#30DWC Jilid8#Squad2)

“Assalamualaykum, sudah sampai di mana mas?” tanyaku.
“Sekitar satu jam lagi, mas sampai. Sudah ngak sabar ya?” jawabnya, dengan nada menggodaku di ujung telepon.
“Jangan geer mas” sahutku dengan nada meledek.
“Ya sudah, hati-hati di jalan ya mas, kami menunggu di rumah. Assalamualaykum” jawabku mengakhiri telepon.
“Iya, waalaykumussalam” jawabnya.
Aku sudah tidak sabar menanti kepulangan suami tercinta. Setelah tepisah selama sepuluh hari, suamiku mengikuti diklat ke luar kota. Selama kepergian suamiku, aku ditemani ibu mertuaku. Suamiku sudah sangat hapal dengan sifatku yang penakut. Walaupun kami tinggal di komplek perumahan yang telah ramai penduduknya, namun aku masih merasa takut menjelang malam harinya. banyak suara yang terdengar, mulai dari suara jangkrik, suara seng yang membuat bulu kudukku merinding, hingga ketakutanku jikalau ada maling yang masuk ke rumah. Hal ini menyebabkan aku gelisah dan tidak bisa tidur. Jika dia harus ke luar kota dalam jangka waktu yang agak lama, pasti dia meminta ibunya untuk menemaniku.
Teeet...teeet...teeet suara klakson mobil di depan rumahku. Aku bergegas keluar, tersenyum pada sosok yang duduk di belakang setir, sembari membukakan pintu pagar. Aku menunggu di teras, mertuaku pun berdiri tidak jauh dariku. Kami menunggu mobil masuk hingga ke garasi.
“Assalamualaykum” ucap suamiku yang tersenyum ke arahku, sambil menyodorkan tangan kanannya.
“Waalaykumussalam” sahutku hampir bersamaan dengan ibu mertuaku. Aku menyambut dan mencium tangannya.
“Apa kabar sayang? Tanyanya penuh kehangatan sambil mengusap kepalaku.
“Alhamdulillah sehat mas” jawabku manja.
“Bagaimana keadaan ibu?” ucapnya sambil meraih tangan ibunya dan menciumnya.
“Sehat nak” jawab ibu mertuaku.
“Adik mana yang?” tanyanya sambil mencari sosok yang dia maksud.
“Biasa mas, adik sedang main futsal di lapangan ujung” jawabku.
Dia hanya menatapku dengan tersenyum.
Sembari masuk ke rumah, suamiku memberikan kunci mobil kepadaku. Pertanda aku harus mengeluarkan barang-barang bawaannya. Bersegera aku menuju mobil, mengeluarkan koper, sepatu, tas ransel dan beberapa oleh-oleh.
“Mas mau mandi dulu atau makan?” tanyaku sambil menengok ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40 wib.
“Makannya nanti saja, mas mau mandi dulu” jawabnya seraya menuju kamar.
Kuikuti langkahnya dari belakang, menyiapkan handuk.
Sementara suamiku mandi, aku sibuk memisahkan pakaian kotor yang ada di kopernya. Ibu mertuaku juga tampak sibuk membuka oleh-oleh berupa makanan khas bumi Sriwijaya itu.
“Biar saya saja yang menggorengnya bu” ucapku, sambil menyiapkan wajan. Makanan khas yang terbuat dari campuran ikan dan sagu ini dinamakan pempek. Usai menggoreng, aku hidangkan di meja. Sambil menonton berita di televisi, aku menikmati pempek bersama ibu mertuaku di ruang keluarga. Tidak lama kemudian, suamiku selesai mandi. Dia menuju ruang keluarga.
“Enak pempeknya? Tanyanya sembari mengambil dua buak pempek dan duduk di sampingku.
“Enak mas, ikannya terasa sekali” sahutku, sambil sesekali menghirup kuahnya.
“Bagaimana diklatnya mas? Seru nggak?” tanyaku.
“Ya serulah, banyak ilmu baru, banyak juga teman baru” sahutnya.
“Kamu mampir nggak ke rumah bibimu? Bagaimana keadaannya” Tanya mertuaku.
“Mampir bu, Alhamdulillah bibi dan suaminya sehat” jawabnya sambil menoleh ke arah ibunya. Namun saya tidak bisa lama main ke sana. Karena jadwal diklatnya padat.
“Bibi titip salam untuk bapak dan ibu, katanya insyaallah lebaran nanti, beliau pulang mudik” lanjutnya.
“Tidak apa-apa. Bibimu juga pasti maklum, kalau kedatanganmu ke sana dalam rangka diklat. Dia juga pasti merasa senang sekali, karena kamu sempatkan berkunjung ke rumahnya”
Panggilan adzan shalat ashar, mengakhiri obrolan kami sore itu. Kami bersegera menunaikan shalat ashar berjamaah.



15 Juni 2017

Terimakasih Sahabat (day 30#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#Squad 2)




Dahulunya kita terpisah, hidup dalam dunia masing-masing. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, akan bertemu kalian. Lewat titian ilmu ini, Allah mengumpulkan kita. Persahabatan yang tumbuh dalam bingkai ukhuwah untuk mengembangkan madrasah.  
Keseharian kita di madrasah ini, banyak mengukir kenangan indah. Dengan semangat darah muda, kita berpikir dan bekerja bagaimana caranya mengubah madrasah ke arah yang lebih baik. Merancang program bersama, membuat terobosan yang terkadang terasa tak mungkin untuk dilakukan. Ingatlah tempat favorit di pojokan madrasah ini. Di mana tangan-tangan lemah kita menjamah setiap bunga untuk mempercantik wajah madrasah. Hampir separuh hari, kita habiskan di madrasah ini. Ada suka, duka bahkan air mata tumpah di sini, tapi sahabat, kita selalu bersama saling menguatkan. Hal yang biasa, jika menemui masalah, kita istirahat sejenak. Mengumpulkan kembali tenaga, mendiskusikan jalan keluarnya, kemudian mencoba bangkit kembali. Tersimpul senyum puas di wajah kita, tat kala hal mustahil itu menjadi nyata. Semangat kita semakin membara, tuk mewujudkan hal-hal mustahil lainnya. Perjalanan empat tahun persahabatan kita, terasa begitu cepat berlalu.
Allah telah merampungkan rencananya. Setiap perjumpaan fitrahnya akan berpisah. Hari ini waktu yang kutakutkan telah tiba. Ah, begitu banyak kenangan indah bersamamu sahabat. Tak habis kata tuk menceritakan persahabatan kita. Tak bosan-bosannya mengenang masa-masa indah kita. Telah banyak lembaran yang ditulis sang waktu, menyaksikan perjalanan kita. Terima kasih untuk segalanya sahabatku. Tuk lelah kalian berdiri di sampingku. Tuk kesabaran kalian menghadapiku. Tuk ketegaran kalian menemaniku, di saat banyak orang mencemoohkanku. Tuk setiap kejutan di ulang tahunku. Sudah kodratnya manusia tak luput dari dosa. Ku mohon, maafkan semua khilaf dan salah.
Tetaplah kita bersahabat, walau raga kadang tak sempat untuk bertatap. Aku akan melanjutkan perjalananku menuju tempat kerja yang baru. Aku tak tahu, apakah aku akan menemui orang-orang seperti kalian sahabatku. Doakanlah aku baik-baik saja.

14 Juni 2017

Festival Tabot Bengkulu (day 29#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#Squad 2)





Provinsi Bengkulu terletak di sebelah barat pulau Sumatera. Provinsi ini dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata. Bengkulu menyediakan wisata alam, sejarah,  bahari, budaya, hingga wisata kuliner. Bagi anda yang belum pernah berkunjung ke provinsi ini, saya akan menceritakan salah satu wisata budaya yang ada yakni Festival Tabot.
Festival tabot adalah kegiatan budaya tahunan yang ada di provinsi Bengkulu. Festival ini telah masuk dalam agenda tahunan wisata budaya di provinsi ini. Festival tabot diadakan setiap tanggal satu hingga sepuluh Muharam. Malam pembukaan Festival Tabot mengawali ritual Tabot, yakni peringatan kematian Hussain bin Ali bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW yang wafat di Padang Karbala (Irak).  Upacara selama sepuluh hari tersebut yaitu mengumpulkan semua bagian tubuh Hussain lalu diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Adapun tahapan ritual tabot secara berurutan, yakni mengambil tanah, duduk penja, meradai, merajang, arak penja, arak serban, gam atau masa tenang/berkabung dan arak gedang serta tabot terbuang.
Festival Tabot dipusatkan di Lapangan Merdeka Bengkulu. Pada malam pembukaan tabot, digelar pentas semikolosal musik dan tari kontemporer yang menonjolkan musik dol. Dol adalah alat musik tabuh khas provinsi Bengkulu. Dol terbuat dari bagian bawah batang kelapa. Selama festival Tabot, Pemerintah Bengkulu juga mengadakan sejumlah perlombaan, di antaranya;
1.          Festival tari kreasi baru daerah.
2.         Pagelaran seni budaya nusantara.
3.         Lomba lagu perjuangan.
4.         Lomba ikan-ikan.
5.         Lomba rebana.
6.         Lomba musik dol.
7.         Lomba tari kreasi tabot.
8.         Lomba telong-telong.
9.         Lomba mobil hias dan masih banyak lagi lomba lainnya.
Di arena tabot juga diadakan pameran pembangunan provinsi Bengkulu. Hampir setiap instansi pemerintah daerah mengisi stand yang telah disediakan panitia festival. Pada pameran ini, ditampilkan pembangunan dan perkembangan wajah provinsi Bengkulu. Selain ritual tabot, pertunjukan seni tari dan musik, dan pameran pembangunan, juga disediakan pasar rakyat. Pasar rakyat ini menyediakan wisata kuliner, hiburan dan aneka barang dagangan.
Kegiatan festival tabot ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain karena ritual tabot dan rangkaian pertunjukkan seninya, pusat kegiatan festival ini berada di lokasi yang strategis. Lapangan merdeka Bengkulu terletak di dekat Port Marlborough (benteng peninggalan Inggris), Tugu Thomas Parr, Tugu Pers Bengkulu dan pantai zakat. Bagi Anda yang memiliki hobi travelling, jadikan Bengkulu sebagai salah satu tujuan destinasi Anda.




13 Juni 2017

Hamparan Surga Laut di Pulau Enggano (day 28#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#Squad 2)




Pulau Enggano merupakan pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudera Hindia. Pulau enggano termasuk wilayah pemerintahan Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Pulau Enggano juga memiliki gugusan pulau-pulau kecil, di antaranya pulau Bangkai, pulau Dua, pulau Merbau dan pulau Satu. Akses menuju pulau Enggano ada dua alternatif yaitu jalur laut dan jalur udara. Jalur laut dapat ditempuh dalam waktu 15 jam dari Kota Bengkulu. Pelabuhan Pulau Baii merupakan dermaga tempat kapal Feri KM Pulo Telo dan kapal perintis merapat. Kapal Feri KM Pulo Telo beroperasi dua minggu sekali, sedangkan kapal perintis beroperasi setiap sepuluh hari sekali.
Pulau ini memiliki ekosistem yang masih alami. Hutan mangrove yang luas, menyediakan sumber kayu dan sumber pangan yang memiliki kandungan protein tinggi seperti kepiting bakau. Selain itu, terdapat berbagai jenis burung. Daerah pasang surut ini juga menjadi tempat berkembangbiak fauna besar lainnya yaitu buaya.
Menengok ke arah pantai, dengan pasir putih kasar yang bersih, menambah kemolekan pulau ini. Selain hutan mangrove, di pulau ini terdapat hamparan terumbu karang yang luas. Beragam terumbu karang yang indah dengan aneka jenis ikan yang berwarna warni memberi kesan tersendiri. Pulau ini sangat cocok dijadikan pilihan untuk melakukan aktivitas air seperti snorkeling dan diving. Padang lamun yang terdapat di pulau ini juga cantik. Pemandangan menghijau yang menjadi tempat nursery bagi ikan-ikan kecil dan hewan-hewan mollusca lainnya.
Selain pemandangannya yang indah, kita juga dapat menikmati wisata kuliner ikan panggang dan sup kepiting bakau. Menikmati kuliner di tepi pantai yang berpasir putih dan laut yang tenang menyajikan suasana damai. Potensi wisata bahari yang begitu banyak di pulau ini, menjadikan pulau ini salah satu tujuan wisata di provinsi Bengkulu.
 


Pesona Pulau Tikus Bengkulu (day 27#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#Squad 2)






Provinsi Bengkulu merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau Sumatera. Bengkulu memiliki potensi wisata yang bervariasi, wisata alam, budaya, sejarah maupun kuliner. Jika ada yang bertanya, apakah destinasi wisata yang ada di Bengkulu? semua pasti menjawab pantai panjang. Provinsi Bengkulu dikenal karena pantainya yang indah. Sebenarnya destinasi wisata di provinsi Bengkulu banyak, di antaranya Port Marlborough peninggalan Inggris, rumah kediaman Bung Karno, sumber air panas Suban, danau Mas dan masih banyak yang lainnya. Namun kali ini, saya akan mengenalkan salah satu destinasi wisata bahari yang terletak di ibukota provinsi Bengkulu.
Destinasi wisata bahari ini bernama Pulau Tikus (Rat Island). Pulau Tikus berada di sebelah Barat Kota Bengkulu. Pulau mungil ini berukuran sekitar satu hektar. Pulau kecil yang memiliki banyak karang ini, merupakan tempat yang ideal untuk snorkeling atau aktivitas air lainnya. Untuk menuju ke Pulau Tikus, tentu banyak biro perjalanan wisata yang terdapat di Pantai Panjang. Saya sudah dua kali berkunjung ke pulau ini. Saya merekomendasikan biro perjalanan “Wisata Pulau Tikus Tiga Putra”. Beberapa fasilitas yang ditawarkan yakni, pemandu wisata yang berpengalaman, speedboat yang nyaman, asuransi jiwa, lifevest, snack dan makan siang, sepatu renang, alat snorkeling, foto underwater, tempat bersantai dan kamar mandi. Biro perjalanan ini beralamat di Sumur Melele, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.
Mari kita memulai wisata ke Pulau Tikus. Kita berangkat ke pulau Tikus sekitar pukul sembilan pagi menggunakan speedboat. Waktu tempuh dari bibir Pantai Panjang sekitar tiga puluh menit. Kita akan menikmati perjalanan yang nyaman, gelombang air laut yang tenang dan pemandangan laut biru. Sesekali kita akan berpapasan dengan kapal nelayan yang sedang melaut. Seiring waktu, maka makin kelihatan pulau yang akan kita tuju. Sebelum tiba ke pulau ini, kita sudah disambut dengan hamparan terumbu karang yang terlihat dari beningnya air laut. Kita dapat melihat ikan-ikan kecil dan terumbu karang yang indah.
Sesampainya di Pulau Tikus, turun dari speedboat kita sudah langsung disambut dengan angin yang berhembus, pasir yang berwarna agak krem, dan pecahan-pecahan karang yang terbawa air laut menuju tepiannya. Kita akan menuju tempat bersantai yang telah disediakan oleh biro perjalanan. Tempat bersantainya tidak jauh dari mercusuar. Di tempat bersantai ini, petugas telah menyediakan teh panas. Pengunjung dapat menikmati teh yang telah disediakan  atau langsung berjalan menyusuri pulau dalam waktu lima belas menit. Selain itu, kita dapat berenang di airnya yang jernih sambil snorkeling. Melihat keindahan terumbu karang dan ikan yang berwarna warni, ular laut, teripang, bulu babi, landak laut dan hewan laut lainnya, memberi kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Kita juga dapat berfoto underwater bersama ikan badut dan terumbu karangnya.