21 Mei 2017

Pemanfaatan Android untuk Meningkatkan Literasi TIK Siswa (Day 5#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) atau disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur. Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016, dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4.382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1.298 SMA/MA, dan 2.100 SMK (Sumber : Kemendikbud, 2017).
Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah/madrasah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah/madrasah) secara off line. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload). Sekolah atau madrasah yang akan menyelenggarakan UNBK harus melakukan berbagai persiapan yakni sarana dan prasarana yang meliputi hardware maupun softwarenya. Sekolah atau madrasah harus menyediakan sarana komputer dengan spesifikasi minimal yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terdiri atas server dan client. Sementara itu, yang tidak kalah pentingnya sekolah atau madrasah harus menyediakan sumber daya manusia yang beperan dalam pelaksanaan UNBK yaitu proktor dan teknisi.
Selain mempersiapkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung UNBK, sekolah atau madrasah juga harus mempersiapkan kemampuan literasi teknologi siswa yang akan mengikuti UNBK. Hal ini bertujuan agar siswa tidak mengalami kendala pada saat mengikuti UNBK. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2017 ini, menyediakan waktu untuk para siswa mempelajari proses pelaksanaan UNBK melalui kegiatan “Simulasi UNBK” yang diadakan sebanyak dua kali dalam rentang waktu sebelum pelaksanaan UNBK. Pada kegiatan simulasi UNBK ini, siswa diajarkan bagaimana “login” dengan mengisi “user” dan “password” yang telah ditentukan, mengisi “token” sehingga muncul soal, mengerjakan soal hingga selesai dan “logout”. Tentu saja hal ini merupakan pengalaman baru bagi siswa. Setelah mengikuti kegiatan simulasi yang pertama, ada siswa yang langsung paham apa saja tahapan yang akan mereka kerjakan, namun ada juga siswa yang masih harus dibimbing. Hal ini wajar, dikarenakan UNBK baru pertama kali dilaksanakan.
Salah satu alternatif yang dapat penulis tawarkan untuk membantu meningkatkan literasi siswa terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah pembelajaran berbasis android yaitu “GESCHOOL”. Siswa dapat memanfaatkan android dengan mendownload aplikasi geschool di play store. Penulis merupakan salah satu guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bengkulu Utara (MTsN 1 BU). Pada tahun 2017 ini, MTsN 1 BU adalah satu-satunya madrasah tsanawiyah penyelenggara UNBK yang ada di provinsi Bengkulu. Semenjak ditetapkannya MTsN 1 BU sebagai penyelenggara UNBK, penulis memperkenalkan salah satu aplikasi pembelajaran berbasis android kepada siswa, untuk meningkatkan literasi TIK siswa. Sarana yang harus dipersiapkan siswa hanya android dan paket data internet.
Fitur-fitur utama yang terdapat pada aplikasi geschool adalah sebagai berikut :
1.       Gebook, berisi materi belajar online. Fitur ini memberi fasilitas kepada siswa agar dapat  belajar kapanpun dan di manapun. Siswa dapat memilih mata pelajaran dan materi apa yang ingin dipelajari. Siswa dapat memanfaatkan materi belajar online untuk meningkatkan pemahamannya.
2.     Getop, fitur ini berisi latihan online yang tersaji dalam ribuan paket soal, dilengkapi dengan pembahasan yang padat, jelas, dan terperinci agar mudah dipahami siswa. Pada fitur ini, jika siswa mengalami kesulitan untuk memahami soal latihan yang sedang dikerjakan, siswa dapat memanfaatkan menu “bantuan” yang berisi petunjuk soal. Setelah siswa mengerjakan latihan soal, siswa langsung dapat melihat skor yang diperoleh siswa. Latihan soal ini dapat dikerjakan oleh siswa kapan saja.
3.       Getrol,  pada fitur ini, siswa dapat memanfaatkan try-out online real time untuk belajar rutin dan meningkatkan kemampuan siswa. Pada fitur ini, siswa dapat memilih try-out mata pelajaran yang diinginkan, jenjang kelas, selain itu siswa juga dapat menentukan waktunya sendiri sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah atau madrasah. Setelah mengikuti try-out online, siswa langsung dapat melihat skor yang diperolehnya, ranking seluruh peserta dan mempelajari menu pembahasan dari setiap soal yang diujikan. Penelitian menunjukkan bahwa belajar rutin dapat meningkatkan hasil belajar seseorang. Semua aktivitas yang diikuti siswa tersimpan pada laman geschool. Siswa dapat mempelajari ulang latihan soal, soal try-out online yang pernah diikuti. 

Aplikasi geschool juga dapat dimanfaatkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Tentu saja guru yang bersangkutan harus menguasai TIK, agar dapat mengembangkan pembelajaran berbasis android. Guru dapat membuat rangkuman materi pelajaran yang diampunya pada menu gebook. Memberi contoh-contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan mata pelajaran tersebut. Guru dapat memilah materi yang akan dibuat menjadi beberapa topik, hal ini bertujuan membantu siswa mempermudah mempelajarinya. Guru juga dapat memberi latihan-latihan soal pada menu getop. Pada akhir pembelajaran, guru biasanya melakukan evaluasi. Soal ulangan harian dapat dibuat pada menu getrol, dan pelaksanaan ulangannya berbasis android. Siswa langsung dapat melihat hasil ulangan harian beserta pembahasannya. Guru tidak perlu meluangkan waktu untuk mengoreksi, karena aplikasi yang melakukannya. Guru dapat mengambil hasil ulangan siswa untuk dianalisis. Selain untuk melaksanakan ulangan harian, guru juga dapat membuat soal-soal try-out online.
Dengan memanfaatkan aplikasi geschool berbasis android pada proses pembelajaran, diharapkan dapat meningkatkan literasi TIK siswa. Pembelajaran akan lebih menyenangkan, dan perlahan siswa akan dapat memanfaatkan android tidak hanya untuk media sosial, tetapi juga media belajar dan ulangan online. Selain daripada itu, penggunaan android dapat mengurangi penggunaan kertas. Hal ini sejalan dengan gerakan “paperless” nasional. Jika guru dan siswa sudah mulai menggunakan aplikasi ini sejak awal, maka siswa tidak akan terkendala dalam mengikuti unbk. Penggunaan android juga dapat menjawab permasalahan try-out berbasis komputer pada sekolah atau madrasah yang memiliki jumlah komputer terbatas.

GURU HEBAT (day 4#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#squad 2)



GURU HEBAT

1.       Sosok Guru Hebat

 Profesi sebagai seorang guru merupakan pilihan yang tepat bagi saya. Ada banyak tokoh dunia pendidikan yang saya kagumi, tetapi sudah banyak dibahas melalui berbagai media cetak maupun elektronik. Beberapa orang guru yang langsung bersentuhan dengan kehidupan saya, menjadi inspirasi bagi saya dalam menjalankan tugas, tidak berlebihan jika saya menyebutkan sisi yang saya kagumi dari guru-guru saya.
Saya melanjutkan sekolah menengah atas di SMUN 1 kota Bengkulu pada tahun 1994, seorang guru biologi bernama Nenti Haryanti menjadi idola saya di kala itu. Ibu Nenti begitulah panggilan akrab beliau, merupakan sosok seorang guru yang tenang, suasana belajar yang enak, serta banyak memberi perhatian kepada siswanya. Kami begitu antusias menerima materi pelajaran dari beliau, ada banyak kegiatan belajar yang membuat kami merasa begitu terlibat didalamnya, ada kerinduan tersendiri jikalau beliau berhalangan hadir.
Pada tahun 1997 saya melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu, ada seorang dosen sekaligus pembimbing akademik saya Dr. Diah Aryulina. Bu Diah adalah seorang dosen yang menurut saya mengajar dengan penuh antusias, bersemangat, disiplin, memberi bimbingan, selalu mendukung kegiatan mahasiswa, memotivasi mahasiswa untuk lebih banyak melakukan kegiatan dan meraih prestasi. Ada sosok beliau yang begitu membuat saya terharu, beliau selalu memberi reward atas prestasi yang saya dapat berupa pujian, biaya kursus internet dan buku. Beliau akan menanyakan “buku apa yang eza butuhkan, karena saya akan berangkat ke jakarta?” Ya..buku, salah satu hadiah yang diberikan kepada saya. Bahkan hingga saya menjadi gurupun beliau masih saja mengirimi saya buku; buku Undang-undang Guru dan Dosen Tahun 2005 dan buku mengenai Permendiknas Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006. Beliau selalu memotivasi saya untuk menjadi guru yang memiliki kepribadian yang kuat, kaya dengan ilmu dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Sosok yang memberi saya inspirasi untuk selalu melaksanakan tugas dengan maksimal dan harus banyak berbuat untuk kemajuan diri sendiri maupun orang lain.
Program beasiswa S2 untuk guru bidang studi pada jenjang tsanawiyah dan aliyah yang dilaksanakan oleh kementerian agama, memberi kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Program Studi Biologi tahun 2007. Melalui program beasiswa ini diharapkan guru bidang studi di bawah naungan kementerian agama dapat meningkatkan kompetensi akademiknya sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Ada sosok seorang dosen yang juga memberi inspirasi kepada saya, beliau adalah Dr. Devi Nandita Choesin. Bu Devi dengan tampilannya yang sederhana dan selalu hangat bila bertemu mahasiswa, memberi pengalaman yang sama hebatnya di saat saya bertemu dengan ibu Diah. Beliau memiliki sikap disiplin yang tinggi, membimbing mahasiswa dengan penuh kesabaran, selalu membiasakan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Di antara kesibukannya yang padat, beliau tetap menyempatkan mengoreksi tugas-tugas yang dikerjakan mahasiswa. Jika ada tugas mahasiswa yang mirip/sama persis, beliau akan memanggil mahasiswa tersebut dan meminta klarifikasi mengenai tugasnya. Satu hal yang saya pelajari dari kebiasaan sang dosen, bahwa sesungguhnya beliau menginginkan mahasiswa mengerjakan tugas dengan usahanya sendiri, tidak menjadi plagiat apalagi memperoleh semua dengan instan. Melalui cara ini sebenarnya bu Devi ingin agar mahasiswa menjadi lebih kreatif, bisa berinovasi, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas apapun, agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Ada nasehat yang beliau sampaikan setelah usai sidang thesis, yang membuat saya menangis : “saya sangat menghargai semua kerja keras dan jerih payah yang telah kamu lakukan selama ini, baik pada saat perkuliahan, melakukan penelitian hingga sidang ini. saya yakin sekali kamu adalah orang yang tekun dan gigih, jangan pernah hilang semangat itu. Apalagi kamu seorang guru, guru yang harus menjadi contoh yang baik untuk murid-muridmu, untuk rekan sesama guru dan yang paling penting, kamu akan kembali ke masyarakat. Saya berharap akan bertemu kamu lagi di sini, di program doktor”. Nasehat beliau begitu dalam saya rasakan, ternyata di sela-sela kesibukannya, beliau mengikuti perkembangan saya selama menempuh studi di sini.
Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari guru-guru hebat saya, yang berpengaruh juga terhadap perilaku saya dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pengalaman yang bisa membangkitkan dan memelihara motivasi dan semangat saya untuk tetap melaksanakan tugas dan memberikan hal terbaik yang saya punya untuk dunia pendidikan.
Dunia pendidikan merupakan dunia yang selalu ada harapan dan cita-cita, ada situasi yang ingin kita ubah, ada hasil yang ingin kita pertahankan dan ada juga saat-saat yang mengharukan. Terkadang hal-hal yang kita lakukan belum menunjukkan hasil yang dapat kita rasakan pada saat itu, tetapi hasil tersebut bisa saja muncul setelah selang beberapa tahun kemudian.
Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, seorang guru tidak hanya pandai saja, tetapi harus memiliki kepribadian yang luhur, yang dapat menjadi panutan dan tuntunan bagi siswanya. Sebagai seorang guru kita harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, agar kebiasaan-kebiasaan positif yang sering kita lakukan dapat dicontoh oleh siswa. Seorang guru harus dapat menjadi pribadi yang utuh, yang memiliki akhlak yang mulia, baik dalam hal perilaku maupun ucapannya. Siswa akan menilai seorang guru berdasarkan kesesuaian ucapan dan perilakunya. Seorang guru yang sering bertindak tidak sesuai dengan ucapannya, seringkali kali mendapat respon yang kurang baik dari siswanya.
Guru yang profesional, berkualitas, dan mempunyai visi yang jauh ke depan dapat menjadikan siswa sebagai generasi yang menyadari keesaan tuhannya, berkualitas, unggul, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Guru harus bersemangat dalam mengejar ilmu dan “up date knowledge” merupakan hal yang penting yang harus dilakukan guru, tidak hanya penting karena tugas guru sebagai agent pembelajaran, tetapi juga  untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswanya. 

2.       Pengalaman menjadi guru
Saya terjun di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2002, banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari rekan-rekan guru.
    
Must go on
Pelajaran berharga dari sosok guru-guru hebat saya memberikan pengaruh yang tidak sedikit terhadap pelaksanaan tugas saya sebagai guru. Karakter disiplin, pekerja keras, ulet, dan selalu ingin belajar yang mereka tanamkan pada saya sangat membantu pekerjaan saya. Saya selalu berusaha memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada siswa. Saya mempunyai harapan agar ada karakter yang kuat, yang bisa saya tanamkan pada mereka. 
Melaksanakan tugas sebagai guru yang dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya tidaklah mudah. Bukankah siswa menilai guru berdasarkan perilaku kesehariannya yang dapat mereka amati. Siswa pasti sudah mengenal kebiasaan masing-masing gurunya. Berdasarkan pengamatan saya, siswa akan memberi respon yang sama dengan kebiasaan gurunya. Misal jika ada seorang guru yang sering datang terlambat maka siswa juga akan terlambat masuk ke dalam kelas, jika ada guru yang malas menilai pekerjaan siswa maka siswa akan malas mengerjakan tugas dari sang guru. Begitu juga sebaliknya, jika guru datang tepat waktu maka siswa tidak akan terlambat masuk ke dalam kelas, guru yang dalam pelaksanaan proses pembelajarannya menarik maka siswa pun akan belajar dengan antusias.
Guru yang disiplin, memiliki etos kerja tinggi, kreatif dan inovatif sering kali mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Hambatan yang paling sering muncul berasal dari rekan seprofesinya. Guru yang disiplin terhadap waktu, mempersiapkan perangkat pembelajaran, melakukan inovasi-inovasi baik dari segi metode mengajar maupun media yang digunakan, up date informasi terbaru seputar dunia pendidikan akan dianggap sebagai guru yang idealis, sok tahu, egois dan kaku. Tantangannya adalah bagaimana agar guru tersebut tetap pada kebiasaan-kebiasaan positifnya di tengah iklim kerja yang tidak kondusif. Pada kondisi seperti ini terkesan bahwa guru tersebut menentang arus.
Sebagai seorang guru yang memiliki keyakinan yang teguh bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, maka sebaiknya keyakinan itu tidak luntur hanya karena kita bekerja melawan arus. Mari kita lakukan banyak hal yang bisa meningkatkan kualitas diri kita, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang kita miliki, jika kita terbentur dan menghadapi masalah, maka tanggapilah masalah tersebut sebagai suatu proses pembelajaran untuk kita. Mari tanamkan di dalam diri kita bahwa “harga diri saya dipertaruhkan, jika saya tidak melakukan setiap pekerjaan yang diamanahkan kepada saya dengan maksimal”.
 
Kerja keras, jangan menjadi guru yang biasa saja
Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha melakukan apa saja dengan sebaik mungkin. Menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun administrasi, melakukan banyak hal yang dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Hal-hal yang telah saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan akademik saya diantaranya membeli buku-buku yang berhubungan dengan tugas saya sebagai agen pembelajaran, mengikuti seminar-seminar pendidikan, membuat inovasi media pembelajaran, melakukan PTK, mengikuti lomba-lomba guru serta membimbing siswa untuk mengikuti lomba.
Motivasi untuk berhasil dan keyakinan yang kuat merupakan modal utama saya untuk selalu melakukan banyak hal. Pengalaman-pengalaman dari orang lain yang saya dapatkan dari membaca, sharing, dan konsultasi akademik sangat membantu saya dalam mengerjakan banyak hal, menjadikan proses pembelajaran tersendiri bagi saya. Saya ingin menjadi guru yang berfikir out of the box, melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan, tanpa harus merasa putus asa apabila menemui jalan buntu. Saya sering berhenti sejenak untuk melepaskan kelelahan dan mengumpulkan tenaga baru untuk melanjutkan dan memulai pekerjaan baru.

Be trigger
Tugas tambahan sebagai wali kelas pernah memberi pengalaman yang berharga untuk saya. Pada waktu itu saya mendapat tugas sebagai wali kelas VII. Kegiatan pengambilan laporan penilaian hasil belajar semester ganjil, semua orang tua/wali harus datang ke madrasah untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan pengarahan yang disampaikan oleh wali kelas, diantaranya laporan mengenai kemajuan yang telah diperoleh siswa secara klasikal selama satu semester, harapan-harapan yang belum tercapai dan apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan akademik dan perkembangan siswa pada semester berikutnya. Ada wali murid dari salah seorang siswa yang kedua orang tuanya datang, setelah melihat laporan hasil penilaian yang diperoleh anaknya, raut muka mereka tampak kecewa sekali.
Singkat cerita, kedua orang tua tersebut menceritakan bahwa tiga orang anak terdahulunya tidak ada yang selesai sekolah, sehingga mereka pesimis apakah anak bungsunya ini akan selesai sekolah atau tidak. Pada saat itu mereka meminta saya untuk membimbing sekaligus memberi pelajaran tambahan kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa siswa tersebut menempati peringkat ke-27 dari 30 orang, termasuk anak yang tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan kurang percaya diri. Akhirnya saya mengambil inisiatif menyuruh siswa tersebut berkunjung ke rumah saya.
 Pada saat siswa tersebut berkunjung ke rumah, anak perempuan saya yang berumur lima tahun sedang mengerjakan soal-soal hitungan sederhana dan mengalami kesulitan. Mbak begitulah panggilan anak sulung saya. “Mbak... minta tolong abang yang mengajarkan”, dengan gampangnya siswa tersebut membantu menyelesaikan soal-soal hitungan anak saya, yang kala itu baru masuk TK. Saya langsung memberi pujian “Syawal ternyata pintar dong, coba lihat anak ibu kelihatannya puas diajari Syawal”, dengan terkejut siswa tersebut tersenyum dengan raut wajah memerah. Semenjak hari itu, setiap hari Senin hingga Kamis, siswa tersebut selalu datang ke rumah saya untuk les. Selalu saya berikan pujian setiap siswa tersebut melakukan kebaikan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk berhasil jika dilakukan dengan kerja keras. Saya memantau kemajuan siswa tersebut, dan ternyata seiring waktu rasa percaya dirinya muncul, dia mulai aktif mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas dan selalu ingin maju ke depan kelas untuk menyelesaikan contoh-contoh soal.
Pada akhir semester genap, siswa tersebut menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, dia mampu menduduki peringkat ketiga di kelasnya. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraihnya. Berdasarkan pengalaman ini, ada satu pelajaran yang dapat kita petik, bahwa siswa yang sebelumnya sering kita cap “kurang cerdas” ternyata hanya butuh ”trigger” untuk membangkitkan keyakinan dirinya bahwa sesungguhnya mereka memiliki kemampuan dan potensi untuk menjadi yang terbaik.
Sebagai seorang guru, marilah sama-sama kita menjadi trigger bagi murid-murid kita. Ayo bantu dan yakinkan mereka bahwa keyakinan, rasa percaya diri dan semangat untuk berhasil, akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. Kepada semua gurui jangan berputus asa untuk selalu melakukan kebaikan, jangan pernah berhenti untuk berharap, karena kebahagiaan guru terletak pada keberhasilannya menanamkan karakter yang kuat pada diri muridnya. “Let’s take a massive action for education”.      

Siap menang, siap kalah
“ibu kesal ya?...kami kalah” kalimat itu dilontarkan siswa saya dengan wajah penuh kecewa. Pada saat itu, kami tengah di perjalanan pulang dari mengikuti suatu lomba di kotamadya Bengkulu. MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara merupakan salah satu sekolah yang sering mengikuti ajang-ajang perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Saya kaget dengan pertanyaan tersebut, ternyata siswa saya berani menanyakan “apakah kami dewan guru kesal, jika siswa yang mengikuti ajang perlombaan tidak mendapat juara”. Jawaban saya pada saat itu : “kalian sudah bagus kok, dengan melihat urutan prestasi yang diraih dibandingkan dengan jumlah peserta keseluruhan. Jika kalian mengikuti ajang perlombaan dengan sepenuh hati, telah bekerja keras dan melakukan yang terbaik, maka kalian harus siap menang dan siap kalah. Tidak perlu kecewa jika belum berhasil, jadikan pengalaman lomba saat ini sebagai acuan untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba yang akan datang”. Pengalaman saya mendampingi siswa mengikuti lomba, pada saat menjelang lomba, acap kali siswa terserang demam panggung, panik, bahkan pernah memilih mundur sebelum bertarung. “Tugas kalian mengikuti lomba, lakukan sebaik mungkin, masalah hasilnya bagaimana itu urusan nanti”, kalimat itu yang biasa saya lontarkan kepada para siswa yang begitu panik, menjelang detik-detik perlombaannya. Sikap untuk bisa menerima kekalahan ternyata harus ditanamkan pada diri siswa, agar mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, tidak berhenti untuk mencoba, dan sanggup menghadapi situasi yang pahit sekalipun. Terkadang kita para guru hanya mementingkan predikat juara yang dapat diraih siswa. Kita melupakan kerja keras dan kesungguhan mereka, apabila mereka tidak mendapatkan piala, seolah-olah pengalaman mereka mengikuti ajang perlombaan bukan suatu hal yang perlu kita tanyakan.

3.       Harapan untuk selalu melakukan perubahan yang baik
Sebagai seorang guru kita harus memiliki keyakinan yang kuat, tanpa keyakinan apa yang kita cita-citakan tidak akan dapat diraih. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri, akan memberikan kita semangat baru untuk melaksanakan tugas mulia ini dengan baik. Saya selalu berusaha membangkitkan semangat untuk melakukan tugas dengan baik melalui buku-buku bacaan yang dapat meningkatkan motivasi mengajar. Mengembangkan profesionalisme sebagai seorang guru melalui banyak kegiatan. Tidak sedikit guru yang tidak memiliki harapan untuk perubahan. Guru yang hanya melakukan tugas untuk melepaskan kewajiban.
Akhirnya kepada semua guru, mari kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya dengan ikhlas dan penuh keyakinan. Seorang guru harus memperbaiki kualitas dirinya baik dari segi perilaku, ucapan maupun bidang akademis. Mari jadikan diri kita sebagai inspirasi dan motivasi bagi siswa maupun teman sejawat, karena sesungguhnya kebaikan yang kita tanam hari ini, akan kita nikmati hasilnya di masa yang akan datang.   


Eza Avlenda, S.Pd., M.Si
eza.avlenda@madrasah.id






19 Mei 2017

Kabut dalam semangkuk teri (Day 3#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#Squad 2)

Pagi ini sekitar pukul sembilan, keributan terjadi di ruang makan. Di saat anak-anakku berada di sekolah, hanya ada si bungsu dan suamiku yang baru pulang dinas. Hanya berjarak dua hasta dari pagar rumahku, beberapa ibu-ibu sedang memilih dagangan abang sayur yang tiap pagi masuk ke gang kami.

Dia menendang panci yang berada tak jauh dari pintu ruang makan, ke arah dinding dapur yang menurun tiga anak tangga. Sreeeng... plaak.. Bergegas aku turun menuju dapur. "Begitu kuat tendangannya menghantam tubuh lemah ini, kupastikan tulang rusuk sejatiku lepas dari ikatan ruas tulang belakang dan tulang dadaku. Tubuhku menubruk dinding beton kemudian jatuh dari ketinggian dua meter, menggelinding dan akhirnya berhenti di bibir sumur". Mungkin itu keluhan yang aku dengar saat menghampiri panci yang tergeletak di bagian bawah dapurku. Ringkikan panci tadi, menyela candaan ibu-ibu yang sedang menawar sayur. Alangkah tidak beruntungnya aku,
Seiris daging didadaku menggeram"grrr malunya". Belum lepas lelah menyiapkan anak-anak berangkat sekolah, langsung disusul lalapan amarah suami yang tersulut.  Sudah dua hari ini, aku memasak nasi yang diberi air santan menggunakan kelapa yang tumbuh di belakang rumah. Semangkuk bening bayam bersanding tahu, berpadu dengan sambal ikan teri. Hanya itu yang tersedia di atas meja.
Dengan suara keras suamiku berteriak "tidak pernah enak makanan dirumah ini!!!"
"Kau kemanakan uang gajinya?".
Ku atur tekanan suara yang keluar dari mulutku "hanya itu yang bisa kusajikan kak"
"Kau memang istri yang tidak beres...tidak bisa membuat suami betah di rumah" hardiknya memotong jawaban dariku.
Apa yang bisa ku lakukan, kecuali berhemat. Sisa gaji tinggal 90.250 rupiah, yang harus ku atur untuk keperluan sebulan.
Kata-kata makian yang keluar tak ku dengar lagi. Aku hanya tertunduk menekuni diriku di tangga dapur, sementara suamiku duduk di kursi makan.
Bak api disiram bensin,
aku menaiki tangga dapur. Entah bisikan apa yang mengalir masuk ke liang telingaku, memberi tumbukkan energi. Secepat gelombang cahaya, kubaluri wajahnya dengan sambal teri yang berada di meja makan.
Dia berdiri layaknya orang mabuk, menabrak dinding, tangan menggapai-gapai sembari berteriak keras "istri gila..gila..ambilkan air!!!".
"awas kau nanti"
Tak kuindahkan lagi apa yang terjadi, langsung kugendong anak bungsuku yang berlari menangis memeluk pahaku. Aku menangis berjalan cepat keluar melewati pintu depan menuju halaman samping rumahku. Entah berapa banyak mata dan telinga mengintip pertengkaran ini.
Tak lama kulihat, suamiku dengan mata memerah dan air yang masih menetes dari rambutnya, memacu astrea hitam melewati ibu-ibu yang berbisik-bisik di depan rumahku.
Segera aku masuk ke rumah, menghempaskan diri di kursi tamu, menyeka air mataku dan berusaha menenangkan anakku. Meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa.

18 Mei 2017

Mengapa aku disini (Day 2#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)

Yah tepat di depan gapura universitas ini, ada lorong kecil di sebelah kanan dekat jus buah bang aziz. Riuh suara klakson kendaraan bersahut-sahutan, menyambut kedatanganku di ujung perempatan.

Teman yang baru kukenal beberapa jam yang lalu, lewat whatsapp mempersilahkan ku masuk. Namanya bu Sri.
Rolling dorr yang setengah reyot, dilapisi lagi pintu kaca di bagian dalam. Suasana ruangan gelap, berukuran tiga kali tiga meter harus dibantu pencahayaan lampu. Pengap...sudah bisa dipastikan sirkulasi udaranya buruk. Ada gantungan kalender dua tahun yang lalu menghiasi salah satu sisi ruangan. Dinding ruangan dengan cat yang tampak banyak mengelupas karena resapan air, membuat suasana kamar semakin tidak cantik dimataku. Kamar mandi tak berpintu berada disisi kanan ruangan.
Dengan terpaksa aku memasuki ruangan yang kurang layak menurutku. Pemiliknya telah menyediakan karpet biru masih berbau apek yang mempersempit ruang bronkusku. Tersedia selembar kasur tipis, dibalut sepray seadanya dan dua buah bantal dengan satu guling.
Kucoba menghalau perasaan tidak nyaman ini dengan membaca semua chat di whatsapp ku.

Ruangan ini diperoleh temanku setelah mencari beberapa wisma di sekitar universitas, ternyata telah penuh semua. Akhirnya dia memutuskan menerima tawaran ruangan ini, yang berada di sekitar kampus.

Tanpa kusadari kedatangannya yang tiba-tiba tertangkap ekor mataku.."ya Allah" aku terkesiap melihatnya dengan pongah datang menghampiriku..
"Huus..huuss" kupukulkan telapak tangan berkali-kali ke lantai mengusirnya. "kecoa" hewan yang aku takuti.. perasaan merinding langsung membaluri tubuhku..ku ulangi lagi mengusirnya...sekarang dia menuju ke arah wc.."oh tidak"..."akankah ada pertemuan berikutnya?"

"Ayo kita berjamaah, jamak qasar magrib dan isya ya"
"kamu imamnya" ujar bu Sri, tanpa memberi jedah waktu dia langsung mengucapkan qamat.
Tak ada daya tuk menolak, aku mengimami sholat, dilanjutkan berdoa. Selesai mendengarkan cerita seputar pekerjaannya, kami memutuskan untuk keluar mencari makan. Mata ku liar mencari pojokan rumah makan padang..aku orang yang dilahirkan berdarah sumatera, pastinya sangat suka makanan pedas...apalagi provinsi Bengkulu bersebelahan dengan Sumatera Barat.

"Uda..makan disiko..lauknyo asam padeh jo perkedel yo da" pesanku pada pelayan rumah makan, sambil melihat-lihat lauk lainnya. Bu Sri lebih memilih makan bubur daripada nasi. Hal ini disebabkan karena hampir separoh gigi telah meninggalkannya.

Sekitar pukul 22.00 wib, habis berbicang dengan bu Sri. Kami memutuskan untuk pulang. Dengan sekuat tenaga, Kami berdua berusaha menutup rolling door, namun dia tetap kokoh berdiri dan tak mau disatukan. Alhasil, wajahku langsung cemberut "Bagaimana kalau ada yang mengintip kita" ujarku sedih. "Bismillah tidak ada yang mengintip" sahut bu Sri. Aku memasuki ruangan tersebut dengan perasaan was-was. Bunga tidur jauh dari pelupuk mataku. Aku pastikan malam ini akan susah berdamai dengan mataku.
Bu sri telah terlelap tidur. Tinggallah aku sendiri, yang masih berdebat dengan pikiranku mengenai keadaan ruangan ini.

"Kresek...kresek.."ya Allah"..tadi kecoa datang dengan pongahnya...tapi kali ini, dia datang bak satria yang memiliki ilmu olahkanuragan yang mumpuni...membuat dudukku surut beberapa langkah. "Ya Allah...hewan bernama tikus ini dengan menggunakan cakarnya sedang menggaris batas daerah komandonya. Semacam peringatan untukku, bahwa aku telah merangsek masuk melampaui barrier yang telah dibuatnya.
Aku semakin takut...kupandangi lekat-lekat setiap sisi kamar, perasaan takut, jijik dan ingin muntah menjalari semua neuronku. Mata tak dapat kutaklukkan untuk ditutup, aku terjaga hingga menjelang subuh..setiap sapaan detik terasa sangat lambat tuk berjumpa dengan surya..lelah dan ngantuk mulai menggerogoti sebatang tubuhku...

17 Mei 2017

Tanyaku (day 1#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#Squad 2)

Aku mempercepat langkah kakiku, sambil membawa barang belanjaan dan menggendong anakku yang baru berumur empat tahun. Gang ini terasa sempit dan jauh untuk ku lalui. "Suaminya suka main perempuan" ucap bu sri.
Tanpa menoleh, aku mengenal suaranya.
"Ada yang bilang selingkuhannya" sahut bu tati.
Bu yani menyela "Ah bukan begitu, suaminya punya istri muda"
Sungguh tak sanggup aku menahan panas di telinga, darah dari seluruh tubuhku berlomba memasuki serambi jantung, memaksa aorta untuk berdenyut mengeluarkan mereka dari jantung. Sudah hampir satu minggu ini, aku jadi bahan perbincangan tetangga. Mereka mengeluarkan semua praduga mengenai keberadaan suamiku. Sakit hati ini harus ku luapkan ke siapa lagi kalau tidak padamu. Pelatuk amarah ini telah ku tarik, namun ku coba tuk menahannya, entah sampai kapan akan kulepaskan.
Kuletakkan barang belanjaan di dapur yang hanya berukuran 2,5 x 3 meter. Aku tertegun duduk di kursi makan. Tanya yang selalu mengundang banyak kemungkinan jawaban,
"Apa lagi yang kurang dari diriku???"
Aku diberi rahmat dapat melahirkan enam orang anak yang sehat tanpa cacat. Aku mencoba menjadi istri yang baik buat suamiku. Menyiapkan pakaian suami dan seragam sekolah anak-anakku. Memasak nasi goreng ditemani sisa lauk tadi malam. Aku rasa cukup sebagai pengganjal sebelum makan siang. Setelah semua berangkat, aku akan sibuk bergulat dengan pekerjaan harianku.

Hatiku telah mengeriput disirami kata-kata sindiran tetangga yang menggibahiku. Apa benar suami ku telah menikah lagi? Atau punya pacar lagi layaknya abg? Ku coba menghubungkan rantai-rantai yang putus..
Sudah seminggu ini suamiku tidak pulang. Yang aku tahu sedang keluar kota. Memang terkadang, sambil bersiap mengenakan pakaian, dia sering bernyanyi riang.
Ahh..kata-kata mereka mulai merasuki pikiran ku lagi.
Kutelisik beberapa jawaban yang bergelayut di otakku
Aku memang tidak bekerja di kantor, seperti wanita lain. Mengenakan seragam, dengan polesan make up di wajah serta semerbaknya bau parfum. Namun pekerjaan mengurus rumah tangga, dengan enam orang anak yang masih kecil-kecil sudah banyak menghabiskan tenagaku. perhatian kepada anak-anak, menyambi pekerjaan menyuci pakaian sambil memasak, membereskan mainan anak yang mungkin sudah empat atau lima kali dibongkar, semua waktuku sudah habis dibagi.
"Ibu...tolong ikatkan gendongan boneka ini" seraya menarik-narik tanganku.
Aku tersentak dari diskusi panjang di kepalaku. Dengan sigap..sambil tersenyum, aku mengikatkan kain gendongan di bahu anakku.