22 Mei 2017

Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Day 6#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. harus dilakukan secara profesional. Oleh sebab itu, guru merupakan salah satu pelaku pendidikan yang dapat bermakna. Guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam pendidikan. untuk meningkatkan profesionalitasnya, pemerintah telah memberi penghargaan terhadap pengembangan karir guru yaitu kenaikan pangkat. Sebagian besar guru mengalami hambatan dalam proses kenaikan pangkat, terutama yang berkaitan dengan unsur-unsur yang akan dinilai. Salah satu kegiatan yang dinilai dalam proses kenaikan pangkat guru adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi  Birokrasi (Permenneg PAN dan RB) Nomor 16 Tahun 2009 yang dimaksud dengan Pengembangan Keprofesian berkelanjutan guna mendukung Pengembangan Profesi bagi Guru Pembelajar (PPGP) adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.
Tujuan  umum  dari  kegiatan  pengembangan  keprofesian berkelanjutan  guna  mendukung  pengembangan profesi guru pembelajar adalah  untuk  meningkatkan kualitas layanan pendidikan  di  sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Secara khusus tujuannya  adalah sebagai berikut:
a.    Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan dalam  peraturan perundangan yang berlaku.
b.    Memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam perkembangan ilmu  pengetahuan, teknologi dan seni untuk memfasilitasi proses pembelajaran peserta didik.
c.     Meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.
d.    Menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru.
e.     Meningkatkan citra, harkat, dan martabat profesi guru di masyarakat.
f.      Menunjang pengembangan karier guru.

Menurut Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009, unsur kegiatan pengembangan  keprofesian berkelanjutan meliputi: Pengembangan Diri (PD), Publikasi Ilmiah (PI), dan Karya Inovatif (KI). Penulis akan mencoba untuk memaparkan tiga kegiatan tersebut secara singkat.

1.    Pengembangan Diri
Kegiatan pengembangan diri adalah upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri agar  memiliki kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau kebijakan pendidikan nasional  serta  perkembangan  ilmu  pengetahuan, teknologi dan/atau seni. Kegiatan  ini dilakukan dalam dua bentuk, yaitu:
a.   Diklat Fungsional
Diklat fungsional merupakan upaya peningkatan kompetensi guru dan/atau  pemantapan  wawasan, pengetahuan,  sikap,  nilai  dan  keterampilan  sesuai  dengan profesi,  yang  bermanfaat  dalam  pelaksanaan  tugas.  Diklat dapat  dilaksanakan  secara  tatap  muka  maupun  jarak  jauh, diklat jarak  jauh dapat dilakukan dengan korespondensi atau berbasis internet (online). Jenis diklat dapat berupa pelatihan, penataran, bimbingan teknis,  bimbingan  karier,  kursus, magang  atau  bentuk  lain  yang  diakui  oleh  instansi  yang berwenang. 
b.   Mengikuti Kegiatan Kolektif Guru
Kegiatan kolektif guru adalah kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan  ilmiah atau mengikuti kegiatan bersama yang dilakukan guru yang bertujuan untuk  meningkatkan keprofesian  guru yang bersangkutan.  Kegiatan kolektif guru dapat berupa :
o  Mengikuti  kegiatan  ilmiah di KKG/MGMP atau organisasai profesi guru.
o  Mengikuti  seminar,  lokakarya, koloqium, diskusi panel, in house training (<30 span="" style="mso-spacerun: yes;">  jam) atau  bentuk  pertemuan ilmiah lainnya.
o  Mengikuti  kegiatan kolektif lain yang sesuai dengan tugas dan kewajiban guru terkait dengan pengembangan keprofesiannya.

2.   Publikasi Ilmiah
Publikasi  ilmiah  pada  kegiatan  pengembangan  keprofesian berkelanjutan terdiri dari tiga kelompok kegiatan sebagai berikut:
a.   Presentasi pada Forum Ilmiah
Guru sering diundang untuk mengikuti pertemuan ilmiah. Tidak  jarang, mereka juga  diminta  untuk  memberikan presentasi,  baik  sebagai  pemrasaran  atau  pembahas  pada pertemuan  ilmiah  tersebut.  Untuk  keperluan  itu,  guru  harus membuat prasaran ilmiah. Prasaran  ilmiah  adalah  sebuah  tulisan  ilmiah  berbentuk makalah  yang  berisi  ringkasan  laporan  hasil  penelitian, gagasan, ulasan, atau tinjauan ilmiah.
b.   Publikasi  hasil  penelitian  atau  gagasan  inovatif  pada bidang pendidikan formal.
Publikasi  ilmiah  guru  dapat  dipublikasikan  dalam  bentuk laporan  hasil  penelitian  misalnya  laporan   Penelitian Tindakan  Kelas (PTK)  atau  berupa   tinjauan/gagasan  ilmiah  yang ditulis  berdasar  pada  pengalaman  dan  sesuai  dengan  tugas pokok serta fungsi guru. Publikasi ilmiah guru, terdiri dari empat kelompok, yakni sebagai berikut:
o  Laporan Hasil Penelitian adalah publikasi ilmiah berisi laporan hasil penelitian yang dilakukan guru pada bidang pendidikan yang telah dilaksanakan guru di  sekolah/madrasahnya  dan  sesuai  dengan  tupoksinya,  antara  lain dapat berupa laporan Penelitian Tindakan Kelas.
o  Tinjauan Ilmiah adalah publikasi ilmiah yang berisi ide/gagasan penulis dalam upaya  mengatasi berbagai masalah  pendidikan  yang ada  di satuan pendidikan.
o  Tulisan Ilmiah Populer adalah tulisan yang dipublikasikan di media massa  (koran, majalah,  atau sejenisnya). Tulisan ini lebih banyak  mengandung  isi  pengetahuan,  berupa  ide,  atau gagasan pengalaman penulis yang menyangkut bidangpendidikan pada satuan pendidikan penulis bersangkutan.
o  Artikel Ilmiah adalah tulisan yang  berisi  gagasan  atau  tinjauan  ilmiah  dalam  bidang pendidikan  di  satuan  pendidikan  yang  dimuat  di  jurnal ilmiah ber-ISSN.
c.    Publikasi  Buku  Teks  Pelajaran,  Buku  Pengayaan, Pedoman Guru dan Buku Bidang Pendidikan
Publikasi ilmiah pada kelompok ini terdiri dari:
o  Buku Teks Pelajaran adalah buku berisi pengetahuan untuk bidang ilmu atau mata  pelajaran tertentu dan diperuntukkan  bagi  peserta  didik  pada  suatu  jenjang pendidikan  atau sebagai bahan pegangan mengajar guru, baik sebagai buku utama atau pelengkap.  Buku dapat ditulis guru secara individu atau berkelompok.
o  Modul/Diktat Pembelajaran adalah materi pelajaran yang disusun dan disajikan secara  tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya dapat menyerap materi tersebut dan melakukan aktifitas pembelajaran mandiri.
o  Buku Pedoman Guru adalah buku tulisan guru yang berisi rencana  kerja  tahunan  guru.  Isi  rencana kerja tersebut meliputi upaya dalam meningkatkan/memperbaiki kegiatan  perencanaan,  pelaksanaan, dan evaluasi proses pembelajaran. 
o  Buku dalam Bidang Pendidikan adalah buku yang berisi uraian tentang pendidikan secara umum.
o  Karya Terjemahan adalah tulisan yang dihasilkan dari penerjemahan buku pelajaran atau  buku dalam bidang pendidikan dari bahasa asing atau bahasa daerah ke Bahasa  Indonesia,  atau  sebaliknya.  Dari  Bahasa Indonesia  ke  bahasa  asing  atau  bahasa  daerah,  atau sebaliknya.  Buku yang diterjemahkan tersebut diperlukan untuk  menunjang  proses  pembelajaran  yang  dilakukan guru  bersangkutan.


3.   Karya Inovatif
Karya  inovatif  adalah  karya hasil pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau  seni yang bermanfaat bagi pendidikan dan/atau masyarakat. Karya inovatif terdiri dari empat jenis yaitu sebagai berikut:
a.   Menemukan Teknologi Tepat Guna
Teknologi Tepat Guna adalah karya hasil rancangan/pengembangan/percobaan  dalam bidang sains dan/atau teknologi yang dibuat dengan  menggunakan bahan, sistem, atau metodologi tertentu dan dimanfaatkan untuk pendidikan atau masyarakat sehingga pendidikan terbantu kelancarannya atau masyarakat terbantu kehidupannya.
b.   Menemukan/Menciptakan Karya Seni
Menemukan/menciptakan karya seni adalah proses perefleksian nilai-nilai dan gagasan  manusia yang diekspresikan secara estetika dalam berbagai medium seperti rupa, gerak,  bunyi, dan kata yang mampu memberi makna transcendental baik spriritual maupun intelektual bagi manusia  dan  kemanusiaan  secara individual maupun kolektif/masyarakat.
c.    Membuat/Memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga dan Alat Praktikum
o  Subunsur Membuat Alat Pelajaran/Peraga adalah alat yang dipergunakan untuk memperjelas konsep, teori, materi, atau cara kerja sesuatu dalam pelaksanaan  pembelajaran  atau pembimbingan. Dalam memperjelas objek yang dikemukakan, alat  pelajaran/peraga juga merupakan materi yang diajarkan.
o  Subunsur Membuat Alat Praktikum adalah alat yang digunakan untuk praktek pelajaran  sains,  matematika, teknik, bahasa,  ilmu sosial, humaniora, dan keilmuan lainnya.
d.   Mengikuti Pengembangan Penyusunan  Standar, Pedoman, Soal, dan sejenisnya.
o  Penyusunan standar nasional, standar kinerja dan sejenisnya pada tingkat pusat atau  provinsi  (atau  pada kegiatan  yang  disepadankan  bobotnya  pada  tingkat  kabupaten/kota atas keputusan tim penilai). 
o  Penyusunan  soal  ujian  nasional,  soal  ujian  sekolah bersama, soal  uji coba  ujian bersama dan sejenisnya pada tingkat  pusat  atau  provinsi  (atau  pada  kegiatan  yang disepadankan  bobotnya  pada  tingkat  kabupaten/kota  atas keputusan tim penilai).
o  Penyusunan  pedoman  atau  petunjuk  teknis  sebagai penterjemahan  kebijakan  atau  sebagai  pedoman  kegiatan yang  dilaksanakan  pada  tingkat  pusat  atau  provinsi  (atau pada  kegiatan  yang  disepadankan  bobotnya  pada  tingkat kabupaten/kota atas keputusan tim penilai).

21 Mei 2017

Pemanfaatan Android untuk Meningkatkan Literasi TIK Siswa (Day 5#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) atau disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur. Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016, dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4.382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1.298 SMA/MA, dan 2.100 SMK (Sumber : Kemendikbud, 2017).
Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah/madrasah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah/madrasah) secara off line. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload). Sekolah atau madrasah yang akan menyelenggarakan UNBK harus melakukan berbagai persiapan yakni sarana dan prasarana yang meliputi hardware maupun softwarenya. Sekolah atau madrasah harus menyediakan sarana komputer dengan spesifikasi minimal yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang terdiri atas server dan client. Sementara itu, yang tidak kalah pentingnya sekolah atau madrasah harus menyediakan sumber daya manusia yang beperan dalam pelaksanaan UNBK yaitu proktor dan teknisi.
Selain mempersiapkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung UNBK, sekolah atau madrasah juga harus mempersiapkan kemampuan literasi teknologi siswa yang akan mengikuti UNBK. Hal ini bertujuan agar siswa tidak mengalami kendala pada saat mengikuti UNBK. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2017 ini, menyediakan waktu untuk para siswa mempelajari proses pelaksanaan UNBK melalui kegiatan “Simulasi UNBK” yang diadakan sebanyak dua kali dalam rentang waktu sebelum pelaksanaan UNBK. Pada kegiatan simulasi UNBK ini, siswa diajarkan bagaimana “login” dengan mengisi “user” dan “password” yang telah ditentukan, mengisi “token” sehingga muncul soal, mengerjakan soal hingga selesai dan “logout”. Tentu saja hal ini merupakan pengalaman baru bagi siswa. Setelah mengikuti kegiatan simulasi yang pertama, ada siswa yang langsung paham apa saja tahapan yang akan mereka kerjakan, namun ada juga siswa yang masih harus dibimbing. Hal ini wajar, dikarenakan UNBK baru pertama kali dilaksanakan.
Salah satu alternatif yang dapat penulis tawarkan untuk membantu meningkatkan literasi siswa terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah pembelajaran berbasis android yaitu “GESCHOOL”. Siswa dapat memanfaatkan android dengan mendownload aplikasi geschool di play store. Penulis merupakan salah satu guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bengkulu Utara (MTsN 1 BU). Pada tahun 2017 ini, MTsN 1 BU adalah satu-satunya madrasah tsanawiyah penyelenggara UNBK yang ada di provinsi Bengkulu. Semenjak ditetapkannya MTsN 1 BU sebagai penyelenggara UNBK, penulis memperkenalkan salah satu aplikasi pembelajaran berbasis android kepada siswa, untuk meningkatkan literasi TIK siswa. Sarana yang harus dipersiapkan siswa hanya android dan paket data internet.
Fitur-fitur utama yang terdapat pada aplikasi geschool adalah sebagai berikut :
1.       Gebook, berisi materi belajar online. Fitur ini memberi fasilitas kepada siswa agar dapat  belajar kapanpun dan di manapun. Siswa dapat memilih mata pelajaran dan materi apa yang ingin dipelajari. Siswa dapat memanfaatkan materi belajar online untuk meningkatkan pemahamannya.
2.     Getop, fitur ini berisi latihan online yang tersaji dalam ribuan paket soal, dilengkapi dengan pembahasan yang padat, jelas, dan terperinci agar mudah dipahami siswa. Pada fitur ini, jika siswa mengalami kesulitan untuk memahami soal latihan yang sedang dikerjakan, siswa dapat memanfaatkan menu “bantuan” yang berisi petunjuk soal. Setelah siswa mengerjakan latihan soal, siswa langsung dapat melihat skor yang diperoleh siswa. Latihan soal ini dapat dikerjakan oleh siswa kapan saja.
3.       Getrol,  pada fitur ini, siswa dapat memanfaatkan try-out online real time untuk belajar rutin dan meningkatkan kemampuan siswa. Pada fitur ini, siswa dapat memilih try-out mata pelajaran yang diinginkan, jenjang kelas, selain itu siswa juga dapat menentukan waktunya sendiri sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah atau madrasah. Setelah mengikuti try-out online, siswa langsung dapat melihat skor yang diperolehnya, ranking seluruh peserta dan mempelajari menu pembahasan dari setiap soal yang diujikan. Penelitian menunjukkan bahwa belajar rutin dapat meningkatkan hasil belajar seseorang. Semua aktivitas yang diikuti siswa tersimpan pada laman geschool. Siswa dapat mempelajari ulang latihan soal, soal try-out online yang pernah diikuti. 

Aplikasi geschool juga dapat dimanfaatkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Tentu saja guru yang bersangkutan harus menguasai TIK, agar dapat mengembangkan pembelajaran berbasis android. Guru dapat membuat rangkuman materi pelajaran yang diampunya pada menu gebook. Memberi contoh-contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari yang terkait dengan mata pelajaran tersebut. Guru dapat memilah materi yang akan dibuat menjadi beberapa topik, hal ini bertujuan membantu siswa mempermudah mempelajarinya. Guru juga dapat memberi latihan-latihan soal pada menu getop. Pada akhir pembelajaran, guru biasanya melakukan evaluasi. Soal ulangan harian dapat dibuat pada menu getrol, dan pelaksanaan ulangannya berbasis android. Siswa langsung dapat melihat hasil ulangan harian beserta pembahasannya. Guru tidak perlu meluangkan waktu untuk mengoreksi, karena aplikasi yang melakukannya. Guru dapat mengambil hasil ulangan siswa untuk dianalisis. Selain untuk melaksanakan ulangan harian, guru juga dapat membuat soal-soal try-out online.
Dengan memanfaatkan aplikasi geschool berbasis android pada proses pembelajaran, diharapkan dapat meningkatkan literasi TIK siswa. Pembelajaran akan lebih menyenangkan, dan perlahan siswa akan dapat memanfaatkan android tidak hanya untuk media sosial, tetapi juga media belajar dan ulangan online. Selain daripada itu, penggunaan android dapat mengurangi penggunaan kertas. Hal ini sejalan dengan gerakan “paperless” nasional. Jika guru dan siswa sudah mulai menggunakan aplikasi ini sejak awal, maka siswa tidak akan terkendala dalam mengikuti unbk. Penggunaan android juga dapat menjawab permasalahan try-out berbasis komputer pada sekolah atau madrasah yang memiliki jumlah komputer terbatas.

GURU HEBAT (day 4#Eza Avlenda#30DWC Jilid 6#squad 2)



GURU HEBAT

1.       Sosok Guru Hebat

 Profesi sebagai seorang guru merupakan pilihan yang tepat bagi saya. Ada banyak tokoh dunia pendidikan yang saya kagumi, tetapi sudah banyak dibahas melalui berbagai media cetak maupun elektronik. Beberapa orang guru yang langsung bersentuhan dengan kehidupan saya, menjadi inspirasi bagi saya dalam menjalankan tugas, tidak berlebihan jika saya menyebutkan sisi yang saya kagumi dari guru-guru saya.
Saya melanjutkan sekolah menengah atas di SMUN 1 kota Bengkulu pada tahun 1994, seorang guru biologi bernama Nenti Haryanti menjadi idola saya di kala itu. Ibu Nenti begitulah panggilan akrab beliau, merupakan sosok seorang guru yang tenang, suasana belajar yang enak, serta banyak memberi perhatian kepada siswanya. Kami begitu antusias menerima materi pelajaran dari beliau, ada banyak kegiatan belajar yang membuat kami merasa begitu terlibat didalamnya, ada kerinduan tersendiri jikalau beliau berhalangan hadir.
Pada tahun 1997 saya melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Bengkulu, ada seorang dosen sekaligus pembimbing akademik saya Dr. Diah Aryulina. Bu Diah adalah seorang dosen yang menurut saya mengajar dengan penuh antusias, bersemangat, disiplin, memberi bimbingan, selalu mendukung kegiatan mahasiswa, memotivasi mahasiswa untuk lebih banyak melakukan kegiatan dan meraih prestasi. Ada sosok beliau yang begitu membuat saya terharu, beliau selalu memberi reward atas prestasi yang saya dapat berupa pujian, biaya kursus internet dan buku. Beliau akan menanyakan “buku apa yang eza butuhkan, karena saya akan berangkat ke jakarta?” Ya..buku, salah satu hadiah yang diberikan kepada saya. Bahkan hingga saya menjadi gurupun beliau masih saja mengirimi saya buku; buku Undang-undang Guru dan Dosen Tahun 2005 dan buku mengenai Permendiknas Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006. Beliau selalu memotivasi saya untuk menjadi guru yang memiliki kepribadian yang kuat, kaya dengan ilmu dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Sosok yang memberi saya inspirasi untuk selalu melaksanakan tugas dengan maksimal dan harus banyak berbuat untuk kemajuan diri sendiri maupun orang lain.
Program beasiswa S2 untuk guru bidang studi pada jenjang tsanawiyah dan aliyah yang dilaksanakan oleh kementerian agama, memberi kesempatan kepada saya untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Program Studi Biologi tahun 2007. Melalui program beasiswa ini diharapkan guru bidang studi di bawah naungan kementerian agama dapat meningkatkan kompetensi akademiknya sesuai dengan latar belakang pendidikan masing-masing. Ada sosok seorang dosen yang juga memberi inspirasi kepada saya, beliau adalah Dr. Devi Nandita Choesin. Bu Devi dengan tampilannya yang sederhana dan selalu hangat bila bertemu mahasiswa, memberi pengalaman yang sama hebatnya di saat saya bertemu dengan ibu Diah. Beliau memiliki sikap disiplin yang tinggi, membimbing mahasiswa dengan penuh kesabaran, selalu membiasakan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Di antara kesibukannya yang padat, beliau tetap menyempatkan mengoreksi tugas-tugas yang dikerjakan mahasiswa. Jika ada tugas mahasiswa yang mirip/sama persis, beliau akan memanggil mahasiswa tersebut dan meminta klarifikasi mengenai tugasnya. Satu hal yang saya pelajari dari kebiasaan sang dosen, bahwa sesungguhnya beliau menginginkan mahasiswa mengerjakan tugas dengan usahanya sendiri, tidak menjadi plagiat apalagi memperoleh semua dengan instan. Melalui cara ini sebenarnya bu Devi ingin agar mahasiswa menjadi lebih kreatif, bisa berinovasi, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas apapun, agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Ada nasehat yang beliau sampaikan setelah usai sidang thesis, yang membuat saya menangis : “saya sangat menghargai semua kerja keras dan jerih payah yang telah kamu lakukan selama ini, baik pada saat perkuliahan, melakukan penelitian hingga sidang ini. saya yakin sekali kamu adalah orang yang tekun dan gigih, jangan pernah hilang semangat itu. Apalagi kamu seorang guru, guru yang harus menjadi contoh yang baik untuk murid-muridmu, untuk rekan sesama guru dan yang paling penting, kamu akan kembali ke masyarakat. Saya berharap akan bertemu kamu lagi di sini, di program doktor”. Nasehat beliau begitu dalam saya rasakan, ternyata di sela-sela kesibukannya, beliau mengikuti perkembangan saya selama menempuh studi di sini.
Ada banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari guru-guru hebat saya, yang berpengaruh juga terhadap perilaku saya dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pengalaman yang bisa membangkitkan dan memelihara motivasi dan semangat saya untuk tetap melaksanakan tugas dan memberikan hal terbaik yang saya punya untuk dunia pendidikan.
Dunia pendidikan merupakan dunia yang selalu ada harapan dan cita-cita, ada situasi yang ingin kita ubah, ada hasil yang ingin kita pertahankan dan ada juga saat-saat yang mengharukan. Terkadang hal-hal yang kita lakukan belum menunjukkan hasil yang dapat kita rasakan pada saat itu, tetapi hasil tersebut bisa saja muncul setelah selang beberapa tahun kemudian.
Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, seorang guru tidak hanya pandai saja, tetapi harus memiliki kepribadian yang luhur, yang dapat menjadi panutan dan tuntunan bagi siswanya. Sebagai seorang guru kita harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, agar kebiasaan-kebiasaan positif yang sering kita lakukan dapat dicontoh oleh siswa. Seorang guru harus dapat menjadi pribadi yang utuh, yang memiliki akhlak yang mulia, baik dalam hal perilaku maupun ucapannya. Siswa akan menilai seorang guru berdasarkan kesesuaian ucapan dan perilakunya. Seorang guru yang sering bertindak tidak sesuai dengan ucapannya, seringkali kali mendapat respon yang kurang baik dari siswanya.
Guru yang profesional, berkualitas, dan mempunyai visi yang jauh ke depan dapat menjadikan siswa sebagai generasi yang menyadari keesaan tuhannya, berkualitas, unggul, dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Guru harus bersemangat dalam mengejar ilmu dan “up date knowledge” merupakan hal yang penting yang harus dilakukan guru, tidak hanya penting karena tugas guru sebagai agent pembelajaran, tetapi juga  untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki siswanya. 

2.       Pengalaman menjadi guru
Saya terjun di dunia pendidikan dimulai pada tahun 2002, banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang saya dapatkan dari rekan-rekan guru.
    
Must go on
Pelajaran berharga dari sosok guru-guru hebat saya memberikan pengaruh yang tidak sedikit terhadap pelaksanaan tugas saya sebagai guru. Karakter disiplin, pekerja keras, ulet, dan selalu ingin belajar yang mereka tanamkan pada saya sangat membantu pekerjaan saya. Saya selalu berusaha memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada siswa. Saya mempunyai harapan agar ada karakter yang kuat, yang bisa saya tanamkan pada mereka. 
Melaksanakan tugas sebagai guru yang dapat menjadi teladan yang baik bagi siswanya tidaklah mudah. Bukankah siswa menilai guru berdasarkan perilaku kesehariannya yang dapat mereka amati. Siswa pasti sudah mengenal kebiasaan masing-masing gurunya. Berdasarkan pengamatan saya, siswa akan memberi respon yang sama dengan kebiasaan gurunya. Misal jika ada seorang guru yang sering datang terlambat maka siswa juga akan terlambat masuk ke dalam kelas, jika ada guru yang malas menilai pekerjaan siswa maka siswa akan malas mengerjakan tugas dari sang guru. Begitu juga sebaliknya, jika guru datang tepat waktu maka siswa tidak akan terlambat masuk ke dalam kelas, guru yang dalam pelaksanaan proses pembelajarannya menarik maka siswa pun akan belajar dengan antusias.
Guru yang disiplin, memiliki etos kerja tinggi, kreatif dan inovatif sering kali mendapat hambatan dalam melaksanakan tugasnya. Hambatan yang paling sering muncul berasal dari rekan seprofesinya. Guru yang disiplin terhadap waktu, mempersiapkan perangkat pembelajaran, melakukan inovasi-inovasi baik dari segi metode mengajar maupun media yang digunakan, up date informasi terbaru seputar dunia pendidikan akan dianggap sebagai guru yang idealis, sok tahu, egois dan kaku. Tantangannya adalah bagaimana agar guru tersebut tetap pada kebiasaan-kebiasaan positifnya di tengah iklim kerja yang tidak kondusif. Pada kondisi seperti ini terkesan bahwa guru tersebut menentang arus.
Sebagai seorang guru yang memiliki keyakinan yang teguh bahwa menjadi guru adalah tugas mulia, maka sebaiknya keyakinan itu tidak luntur hanya karena kita bekerja melawan arus. Mari kita lakukan banyak hal yang bisa meningkatkan kualitas diri kita, tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang kita miliki, jika kita terbentur dan menghadapi masalah, maka tanggapilah masalah tersebut sebagai suatu proses pembelajaran untuk kita. Mari tanamkan di dalam diri kita bahwa “harga diri saya dipertaruhkan, jika saya tidak melakukan setiap pekerjaan yang diamanahkan kepada saya dengan maksimal”.
 
Kerja keras, jangan menjadi guru yang biasa saja
Sebagai seorang guru, saya selalu berusaha melakukan apa saja dengan sebaik mungkin. Menyelesaikan tugas-tugas akademik maupun administrasi, melakukan banyak hal yang dapat mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri. Hal-hal yang telah saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan akademik saya diantaranya membeli buku-buku yang berhubungan dengan tugas saya sebagai agen pembelajaran, mengikuti seminar-seminar pendidikan, membuat inovasi media pembelajaran, melakukan PTK, mengikuti lomba-lomba guru serta membimbing siswa untuk mengikuti lomba.
Motivasi untuk berhasil dan keyakinan yang kuat merupakan modal utama saya untuk selalu melakukan banyak hal. Pengalaman-pengalaman dari orang lain yang saya dapatkan dari membaca, sharing, dan konsultasi akademik sangat membantu saya dalam mengerjakan banyak hal, menjadikan proses pembelajaran tersendiri bagi saya. Saya ingin menjadi guru yang berfikir out of the box, melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan, tanpa harus merasa putus asa apabila menemui jalan buntu. Saya sering berhenti sejenak untuk melepaskan kelelahan dan mengumpulkan tenaga baru untuk melanjutkan dan memulai pekerjaan baru.

Be trigger
Tugas tambahan sebagai wali kelas pernah memberi pengalaman yang berharga untuk saya. Pada waktu itu saya mendapat tugas sebagai wali kelas VII. Kegiatan pengambilan laporan penilaian hasil belajar semester ganjil, semua orang tua/wali harus datang ke madrasah untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan pengarahan yang disampaikan oleh wali kelas, diantaranya laporan mengenai kemajuan yang telah diperoleh siswa secara klasikal selama satu semester, harapan-harapan yang belum tercapai dan apa saja yang perlu dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan akademik dan perkembangan siswa pada semester berikutnya. Ada wali murid dari salah seorang siswa yang kedua orang tuanya datang, setelah melihat laporan hasil penilaian yang diperoleh anaknya, raut muka mereka tampak kecewa sekali.
Singkat cerita, kedua orang tua tersebut menceritakan bahwa tiga orang anak terdahulunya tidak ada yang selesai sekolah, sehingga mereka pesimis apakah anak bungsunya ini akan selesai sekolah atau tidak. Pada saat itu mereka meminta saya untuk membimbing sekaligus memberi pelajaran tambahan kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa siswa tersebut menempati peringkat ke-27 dari 30 orang, termasuk anak yang tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan kurang percaya diri. Akhirnya saya mengambil inisiatif menyuruh siswa tersebut berkunjung ke rumah saya.
 Pada saat siswa tersebut berkunjung ke rumah, anak perempuan saya yang berumur lima tahun sedang mengerjakan soal-soal hitungan sederhana dan mengalami kesulitan. Mbak begitulah panggilan anak sulung saya. “Mbak... minta tolong abang yang mengajarkan”, dengan gampangnya siswa tersebut membantu menyelesaikan soal-soal hitungan anak saya, yang kala itu baru masuk TK. Saya langsung memberi pujian “Syawal ternyata pintar dong, coba lihat anak ibu kelihatannya puas diajari Syawal”, dengan terkejut siswa tersebut tersenyum dengan raut wajah memerah. Semenjak hari itu, setiap hari Senin hingga Kamis, siswa tersebut selalu datang ke rumah saya untuk les. Selalu saya berikan pujian setiap siswa tersebut melakukan kebaikan dan meyakinkan bahwa dia mampu untuk berhasil jika dilakukan dengan kerja keras. Saya memantau kemajuan siswa tersebut, dan ternyata seiring waktu rasa percaya dirinya muncul, dia mulai aktif mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas dan selalu ingin maju ke depan kelas untuk menyelesaikan contoh-contoh soal.
Pada akhir semester genap, siswa tersebut menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, dia mampu menduduki peringkat ketiga di kelasnya. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraihnya. Berdasarkan pengalaman ini, ada satu pelajaran yang dapat kita petik, bahwa siswa yang sebelumnya sering kita cap “kurang cerdas” ternyata hanya butuh ”trigger” untuk membangkitkan keyakinan dirinya bahwa sesungguhnya mereka memiliki kemampuan dan potensi untuk menjadi yang terbaik.
Sebagai seorang guru, marilah sama-sama kita menjadi trigger bagi murid-murid kita. Ayo bantu dan yakinkan mereka bahwa keyakinan, rasa percaya diri dan semangat untuk berhasil, akan mengantarkan mereka menuju kesuksesan. Kepada semua gurui jangan berputus asa untuk selalu melakukan kebaikan, jangan pernah berhenti untuk berharap, karena kebahagiaan guru terletak pada keberhasilannya menanamkan karakter yang kuat pada diri muridnya. “Let’s take a massive action for education”.      

Siap menang, siap kalah
“ibu kesal ya?...kami kalah” kalimat itu dilontarkan siswa saya dengan wajah penuh kecewa. Pada saat itu, kami tengah di perjalanan pulang dari mengikuti suatu lomba di kotamadya Bengkulu. MTsN Karang Anyar Kabupaten Bengkulu Utara merupakan salah satu sekolah yang sering mengikuti ajang-ajang perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Saya kaget dengan pertanyaan tersebut, ternyata siswa saya berani menanyakan “apakah kami dewan guru kesal, jika siswa yang mengikuti ajang perlombaan tidak mendapat juara”. Jawaban saya pada saat itu : “kalian sudah bagus kok, dengan melihat urutan prestasi yang diraih dibandingkan dengan jumlah peserta keseluruhan. Jika kalian mengikuti ajang perlombaan dengan sepenuh hati, telah bekerja keras dan melakukan yang terbaik, maka kalian harus siap menang dan siap kalah. Tidak perlu kecewa jika belum berhasil, jadikan pengalaman lomba saat ini sebagai acuan untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba yang akan datang”. Pengalaman saya mendampingi siswa mengikuti lomba, pada saat menjelang lomba, acap kali siswa terserang demam panggung, panik, bahkan pernah memilih mundur sebelum bertarung. “Tugas kalian mengikuti lomba, lakukan sebaik mungkin, masalah hasilnya bagaimana itu urusan nanti”, kalimat itu yang biasa saya lontarkan kepada para siswa yang begitu panik, menjelang detik-detik perlombaannya. Sikap untuk bisa menerima kekalahan ternyata harus ditanamkan pada diri siswa, agar mereka menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, tidak berhenti untuk mencoba, dan sanggup menghadapi situasi yang pahit sekalipun. Terkadang kita para guru hanya mementingkan predikat juara yang dapat diraih siswa. Kita melupakan kerja keras dan kesungguhan mereka, apabila mereka tidak mendapatkan piala, seolah-olah pengalaman mereka mengikuti ajang perlombaan bukan suatu hal yang perlu kita tanyakan.

3.       Harapan untuk selalu melakukan perubahan yang baik
Sebagai seorang guru kita harus memiliki keyakinan yang kuat, tanpa keyakinan apa yang kita cita-citakan tidak akan dapat diraih. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri, akan memberikan kita semangat baru untuk melaksanakan tugas mulia ini dengan baik. Saya selalu berusaha membangkitkan semangat untuk melakukan tugas dengan baik melalui buku-buku bacaan yang dapat meningkatkan motivasi mengajar. Mengembangkan profesionalisme sebagai seorang guru melalui banyak kegiatan. Tidak sedikit guru yang tidak memiliki harapan untuk perubahan. Guru yang hanya melakukan tugas untuk melepaskan kewajiban.
Akhirnya kepada semua guru, mari kita laksanakan tugas kita sebaik-baiknya dengan ikhlas dan penuh keyakinan. Seorang guru harus memperbaiki kualitas dirinya baik dari segi perilaku, ucapan maupun bidang akademis. Mari jadikan diri kita sebagai inspirasi dan motivasi bagi siswa maupun teman sejawat, karena sesungguhnya kebaikan yang kita tanam hari ini, akan kita nikmati hasilnya di masa yang akan datang.   


Eza Avlenda, S.Pd., M.Si
eza.avlenda@madrasah.id