6 Juni 2017

La Tahzan (Day 21#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Jangan bersedih
Walau mendung menggulung
Walau debu menggunung
Walau kabut membumbung

Jangan bersedih
Walau lidah terhunus
Walau kepal menggerus
Walau amarah terbungkus

Jangan bersedih
Walau hina mencerca
Walau pilu bertapa
Walau tangis mendera

Jangan bersedih
Walau jengah sesakan dada
Walau luka rajamkan rasa
Walau perih baluri raga

Jangan bersedih
Walau kecewa menemani
Walau janji tak ditepati
Walau senyum tak ditemui

Jangan bersedih
Walau rindu tak mau tertambat
Walau hati tak mau terikat
Walau asa tak mau sepakat

Jangan bersedih
Masih ada Yang Maha Teliti
Yang selalu mengamati
Catat laku diri

Jangan bersedih
Masih ada Yang Maha Rahman
Mendengar doa yang dipanjatkan
Memberi apa yang kau butuhkan


Eza Avlenda
6 Juni 2017

5 Juni 2017

Sahaja Cintaku (Day 20#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Tak ada kata dariku
Tuk wakili hasratku
Ingin memetik dawai hatimu
Lantunkan syair cintaku

Ku harap cintamu
Menatap walau tak terlihat
Mendengar walau tak terucap
Merasa walau tak terungkap

Berada di rembulan hatimu
Harap meraut dukaku
Merajut kisah bersamamu
Membisikkan pada sang waktu

Ku harap cintamu
Tersulam walau tak bersutra
Tertambat walau tak berjala
Teguh walau tak berpaku

Malam ku menyerana
Coba menggurah renjana
Dari sepenggal lawatan sangkala
Sepuh denganmu

Ku harap cintamu
Harmoni walau kadang tak bernada
Memaklumi walau kadang tak terima
Peka walau tak teraba

Hanya aku bersila di kedera
Merengguk bahagia berdua
Tak ingin ada pintu terbuka
Untuk cinta kedua

Eza Avlenda
5 Juni 2017

4 Juni 2017

Tarawih Pertama Jauh dari Keluarga (Part 2) (Day 19#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)

Aku kembali tersentak. Ada panggilan masuk.
"Hallo, bisa dihubungi za?"
"Belum bu" jawabku
"Ya sudah, sekarang eza berangkat saja, shalat dulu. Berdoa, tenangkan pikiran dulu"
Sambil menyeka air mata kujawab "iya bu"
Suara adzan mulai berkumandang, kami berdua beranjak menuju masjid.
Sembari berjalan, aku terus mencoba menghubungi keluargaku. Selalu terdengar nada sibuk.
Pada saat menunaikan shalat isya, bulir bening tak berhenti mengalir. Di setiap sujud, aku selalu berdoa, ya Allah selamatkanlah keluargaku. Usai shalat, aku lanjutkan melaksanakan shalat sunah. Bersimpuh lagi aku berdoa. Ustad telah naik ke atas mimbar, mengucapkan salam, pertanda ceramah segera dimulai. Aku segera beranjak ke pelataran masjid, berusaha menghubungi keluarga lagi. Masih tetap tidak bisa. Aku berpikir, mungkin karena baru terjadi gempa. Suasana kacau, jaringan sibuk karena semua orang ingin menghubungi keluarganya.
Setelah selesai melaksanakan shalat tarawih, kami bergegas pulang. Tiba di kostan, aku kembali menghubungi. Masih terdengar nada sibuk. Sambil menyeka air mata yang tak berhenti mengalir, aku kembali menekan nomor-nomor keluarga ku. Tetap tidak bisa.
Aku mulai kelelahan. Mata mulai sembab. Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Ku coba menekan nomor yang sama. Terdengar nada deringnya, aku penuh harap.
"Assalamualaykum" aku kenal ini suara suamiku.
Hampir tidak terdengar suaraku menjawab dalam sedu sedan.
"Bagaimana keadaannya ling?"
"Kami baik-baik saja. Gempa susulan masih terjadi. Disini mati lampu, kami sudah selesai mendirikan tenda"
"Alhamdulillah, anak-anak gimana?" Tanyaku.
"Baik-baik saja. Mama tenang aja. Nggak usah khawatir"
Aku sedikit tenang.
"Bagaimana kejadiannya ling?"tanyaku dengan suara mulai agak tenang.
"Sekitar pukul enam sore, papa lagi mandi. Anak-anak nonton dengan sulita. Tiba-tiba Sulita berteriak, kak adik-adik dan aku sudah di luar. Gempa kak. Gempa. Baru papa menyadari. Langsung berlari ke luar"
Kami mengobrol lewat telepon agak lama. Akhirnya aku menyudahi panggilan.
Aku mencoba menghubungi orang tua dan adik-adikku. Mereka juga dalam keadaan baik-baik saja.
Malam ini, aku berpikir kenapa aku harus berada di sini. Seharusnya aku berada di sana bersama keluargaku. Apalagi ini tarawih pertama. Namun apa yang bisa aku lakukan, aku pergi ke kota kembang ini untuk melanjutkan studiku. Tidak ada yang perlu disesali, sudah resikonya. Aku bersyukur, bencana yang terjadi di provinsiku, keluargaku selamat tanpa ada yang cedera.

3 Juni 2017

Tarawih Pertama Jauh dari Keluarga (Part 1) (Day 18#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Tidak banyak yang aku kerjakan hari ini. Tidak seperti biasanya, sibuk menyiapkan menu untuk makan sahur pertama. Senja ini begitu cerah, cahaya jingga masih hangat menyeruak di antara jendela kamar. Aku masih terbaring malas memeluk bantal guling. Ku ambil ponsel, pukul 16.50 wib. Dengan malas, aku beranjak.
"Ahh...naik dua lantai dari kamar, tangganya...ahh capek"
Aku terhempas kembali di kursi depan kamarku. Suasana kostan masih sepi. Akhirnya perlahan aku menuju lantai empat. Lantai empat ini, disediakan empunya untuk tempat menjemur pakaian. Sejenak aku duduk dibibir tembok, memandang ke arah jalan. Suara klakson mobil bersahutan, seperti biasa jalan suci kota bandung salah satu titik macet. Pojok ayam taliwang yang berada di depan kostan ku pun sudah sibuk menata meja, pertanda hari semakin senja. Kupandang masjid pusdai yang terletak di sebelah kiri. Bangunan besar berbentuk segi empat dengan paduan warna krem dan ungu muda tampak lengang. Tarawih malam pertama nanti, aku putuskan di masjid ini. Berjalan gontai, sambil membawa pakaian, aku menuju kamar.
Habis menunaikan shalat magrib berjamaah. Aku dan teman sekamarku bersiap menuju masjid. Suara kicauan burung terdengar dari ponselku, pertanda ada panggilan masuk.
"Assalamualaykum" terdengar suara tak asing di seberang sana.
"Waalaykumussalam bu" sahutku.
"Eza lagi dimana? Lagi ngapain?"
"Eza lagi di kostan bu. Ini baru mau berangkat ke pusdai"
"Lho eza nggak nonton tv ya?"
"Eza nggak hobby bu" jawabku.
Bu rita langsung menimpali "Eza coba hubungi dulu keluarga di bengkulu, saya barusan nonton berita, ada gempa di bengkulu"
"Astagfirullah" langsung aku putuskan teleponnya.
Aku terhempas di kursi depan kamarku. Sambil menangis, kubuka log panggilan. My soulmate, langsung ku tekan nomor ini. Terdengar nada sibuk. Kuulangi lagi, terdengar nada yang sama. Makin deras aku menangis.
"Ya Allah, lindungilah keluarga ku"
Teman sekamarku yang berasal dari bengkulu pun sibuk menghubungi keluarganya. Kami bernasib sama, jaringan sibuk. Teman-teman kuliah bergantian menghubungi, menanyakan keadaan keluargaku di bengkulu. Aku mulai kalut, pikiran buruk bergantian muncul di benakku. Mataku mulai bengkak, ku letakkan handphone di kursi. Sambil menangis, aku berdoa "Ya Allah selamatkanlah keluargaku, selamatkan, selamatkan ya Allah"


2 Juni 2017

Masjid (Day 17#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)



Kutengok rupamu
Lusuh dan berdebu
Kotor lagi berbau
Tlah satu tahun berlalu

Anak kecil riang berlarian
Sambut bulan ampunan
Seakan inilah tempat mereka
Tuk habiskan waktu bersama

Kini jelang ramadhan
Kau mulai menawan
Panggilan kemenangan bersahutan
Banyak umat berdatangan

Wajahmu kian berseri
Ketika Banyak yang menghampiri
Coba bersihkan diri
Coba perbaiki hati

Sang surya digulung senja
Saat berbuka telah tiba
Berkumpul wajah berseri-seri
Syukuri nikmat yang tlah diberi

Usai penuhi dahaga
Segera tunai shalat berjamaah
Lanjut tadarus bersama
Hingga datang waktu isya

Tunaikan qiyamul ramadhan
Diselingi pengajian
Harapkan ampunan
Selamat hari pembalasan

Jelang pertengahan ramadhan
Shaf mulai berpamitan
Sibuk siapkan panganan
Berburu pakaian

Tampak ramai dikejauhan
Bergelut dengan hiburan
Seakan inilah kesenangan
Tak hiraukan lagi seruan adzan

Eza Avlenda
2 Juni 2017

1 Juni 2017

Gadis Kecilku (Day 16#Eza Avlenda#30 DWC Jilid 6#Squad 2)

Gadis kecilku
Malu-malu kau utarakan maksudmu
Coba yakinkan diriku
Harap kabulkan pintamu

Gadis kecilku
Dulu aku meragukanmu
Bulatnya tekadmu
Tuk berpisah dariku

Gadis kecilku
Kuantarkan menuju sekolahmu
Kau kan bertemu keluarga baru
Di asrama ini kau rayapi waktu

Gadis kecilku
Lelapkah tidurmu
Kenyangkah makanmu
Tersimpulkah senyummu

Gadis kecilku
Bila mendengar serakmu
Gundah menghardikku
Tuk segera menemuimu

Gadis kecilku
Suara lirih terdengar syahdu
Angin mengaamiinkan doaku
Semoga Allah ridhoi langkahmu

Renyah kau bercerita
Pertanda kau baik-baik saja
Kutitipkan sekepal asa
Kutulis di dinding senja

Dengkuran kalbu merindu
Pulas menyelimuti kalbu
Cinta menyekap rasa
Tunggu datang bahagia

Wahai Yang Maha Tahu
Aku bersimpuh menghadapmu
Kuatkankan anakku
Tuk istiqamah selalu

Eza Avlenda
1 Juni 2017